KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT Tuhan…

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmatNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjunan kita nabi Muhammad SAW, yang telah menjadi suritauladan bagi umat manusia, sehingga sampai detik ini kami masih merasakan indahnya iman dan islam.
Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen, pembimbing yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Mungkin makalah ini kurang dari sempurna, jadi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang mau membacanya, sehingga ini menjadi amal jariah bagi kami.

Bandung, 22 November 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
I.3. PERUMUSAN MASALAH
I.4. TUJUAN PENULISAN
I.5. METODE PENULISAN

BAB II ISI PEMBAHASAN
II.1 KONSEP DASAR MULTIMEDIA
II.1.1 PENGERTIAN MULTIMEDIA
II.2 MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN
II.2.1 FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
II.2.2 JENIS-JENIS MEDIA.
II.2.3 SOFTWARE BAHAN AJAR
II.2.4 JEJARING SOSIAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA
II.2.5 PLUS MINUS PENGGUNAAN MULTIMEDIA / E-LEARNING

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi informasi sekarang ini, semakin marak dan berkembang pesat, sehingga banyak membantu masyarakat dunia untuk menikmati berbagai kemudahan yang telah di hasilkan oleh teknologi tersebut. Sebagai konsekuensi logis dari penerapan teknologi yang tunggal adalah kemajuan suatu bidang usaha yang memanfaatkan teknologi yang berdaya guna dan tepat guna, berdampingan bersama aktifitas sumber daya pengolah dan kelengkapan infrastruktur penunjangnya.
Salah satu bentuk perkembangan teknologi yang menonjol adalah bidang Komputer dan layanan Internet, khususnya bidang multimedia yang sangat berperan dalam penyampaian berita atau informasi. Komputer multimedia dapat di pakai dalam berbagai bentuk kehidupan di antaranya untuk membuat iklan televisi, untuk keperluan presentasi atau seminar yang berbentuk interaktif.
Cara untuk mensukseskan program tersebut diperlukan aplikasi multimedia sebagai sarana komunikasi antara pengajar dan anak didik. Disini penulis akan menjelaskan mengenai cara cermat dalam memudahkan anak-anak untuk lebih cepat mengerti dan mudah memahami materi yang disampaikan.
Dengan dasar tesebut maka penulis mencoba memberikan solusi dengan membuat layanan informasi pembelajaran melalui Jejaring social untuk menarik minat peserta didik.

I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Melihat semua hal yang melatarbelakangi penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia. Kami mengidentifikasi sejumlah masalah
1. Kurangya pengetahuan mengenai penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran berbasis multimedia
2. Tidak meratanya bahan pembelajaran yang didukung layanan fasilitas multimedia yang seharusnya dapat dinikmati peserta didik di Indonesia.

I.3. PERUMUSAN MASALAH
Atas dasar penentuan latar belakang dan identiikasi masalah diatas, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
”Apa itu Media pembelajaran Berbasis Multimedia dan Bagaimana menerapkan kepada pembelajaran serta apa manfaatnya ?”

I.4. TUJUAN PENULISAN
Penulisan ini dilakukan untuk dapat memberikan informasi bahwa media pembelajaran berbasis multimedia sangat dibutuhkan baik sekarang maupun nant di masa yang akan dating. Kebutuhan global yang mendesak manusia untuk lebih berfikir secara modern dan berwawasan luas dituntut untuk memahami multimedia.

I.5. METODE PENULISAN
Untuk mendapatkan data dan informasi yang di perlukan, penulis mempergunakan metode observasi atau teknik pengamatan langsung, teknik wawancara, dan tidak hanya itu, kami juga mencari bahan dan sumber-sumber dari media masa elektronik yang berjangkauan internasional yaitu, Internet.

BAB II
ISI PEMBAHASAN

II.1 Konsep Dasar Multimedia
II.1.1 Pengertian Multimedia
Istilah multimedia berawal dari teater, bukan komputer. Pertunjukan yang memanfaatkan lebih dari satu medium, seringkali disebut dengan pertunjukan multimedia. Pertunjukan multimedia mencakup monitor video, synthesize band, dan karya seni manusia sebagai bagian dari pertunjukan. Multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggambar teks, grafik, audio, gambar gerak (video animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, interaksi, dan berkomunikasi. Dalalm devinisi ini terkadang 4 (empat) komponen penting multimedia. Pertama, harus ada komputer yang mengkoordinasikan apa yang didengar dan dilihat, yang berinteraksi dengan pengunjung. Kedua, harus ada link yang menghubungkan pengunjung dengan informasi. Ketiga, harus ada alat navigasi yang memandu menjelajah informasi yang saling terhubung. Keempat, multimedia memberikan tempat untuk untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan informasi dan ide Alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan text, grafik, animasi, audio dan video.

II.2 Multimedia dalam Pembelajaran

Nasution (1987) menguraikan bahwa perkembangan media komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat akhir-akhir ini. Hal ini diawali dari penemuan alat cetak oleh Guntenberg pada abad ke lima belas tentang buku yang ditulis yang melahirkan buku-buku cetakan. Penemuan fotografi mempercepat cara illustrasi. Lahirnya gambar hidup memungkinkan kita melihat dalam “slow motion“ apa yang dahulu tak pernah dapat kita amati dengan teliti.

Rekaman memungkinkan kita mengulangi lagu-lagu yang dibawakan oleh orkes-orkes terkenal. Radio dan televisi menambah dimensi baru kepada media komunikasi . Video recorder memungkinkan kita merekam program TV yang dapat kita lihat kembali semua kita. Kemampuan membuat kertas secara masinal membawa revolusi dalam media komunikasi dengan penerbitan surat kabar dan majalah dalam jumlah jutaan rupiah tiap hari. Komputer membuka kesempatan yang tak terbatas untuk menyimpan data dan digunakan setiap waktu diperlukan para pendidik segera melihat manfaat kemajuan dalam media komunikasi itu bagi pendidikan. Buku sampai sekarang masih memegang peranan yang penting sekali dan mungkin akan masih demikian halnya dalam waktu yang lama. Namun ada yang optimis yang meramalkan bahwa dalam waktu dekat semua aspek kurikulum akan di-komputer-kan .Memang kemampuan komputer sungguh luar biasa .

Dalam sehelai nikel seluas 20 x 25 cm dapat disimpan isi perpustakaan yang terdiri atas 20.000 jilid. Namun ramalan bahwa seluruh kurikulum akan di-komputer-kan dalam waktu dekat rasanya masih terlampau optimis . Sewaktu gambar hidup ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1913 telah diramalkan bahwa buku-buku segera akan digantikan oleh gambar hidup dan seluruh pengajaran akan dilakukan tidak lagi melalui pendengaran akan tetapi melalui penglihatan. Namun tak dapat disangkal faedah berbagai media komunikasi bagi pendidikan.

Ada yang berpendapat bahwa banyak dari apa yang diketahui anak pada zaman modern ini diperolehnya melalui radio, film, apalagi melalui televisi, jadi melalui media massa. Cara-cara untuk menyampaikan sesuatu melalui TV misalnya yang disajikan dengan bantuan para ahli media massa jauh lebih bermutu dari pelajaran yang diberikan oleh guru dalam kelas.

Penggunaan alat media dalam pendidikan melalui dengan gerakan “audio-visual aids“ pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Sebagai “aids“ alat-alat itu dipandang sebagai pembantu guru dalam mengajar, sebagai ekstra atau tambahan yang dapat digunakan oleh guru bila dikehendakinya. Namun pada tahun 1960-an timbul pikiran baru tentang penggunaannya, yang dirintis oleh Skinner dengan penemuannya “ programmed instruction“ atau pengajaran berprograma. Dengan alat ini anak dapat belajar secara individual. Jadi alat ini bukan lagi sekedar alat bantuan tambahan akan tetapi sesuatu yang digunakan oleh anak dalam proses belajarnya. Belajar beprograma mempunyai pengaruh yang besar sekali pada perkembangan teknologi pendidikan.

Di Amerika Serikat teknologi pendidikan dipandang sebagai media yang lahir dari revolusi media komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan di samping, guru, buku, dan papan tulis. Di Inggris teknologi pendidikan dipandang sebagai pengembangan, penerapan, dan sistem evaluasi, teknik dan alat-alat pendidikan untuk memperbaiki proses belajar. Teknologi pendidikan adalah pendekatan yang sistematis terhadap pendidikan dan latihan, yakni sistematis dalam perumusan tujuan, analisis dan sintesis yang tajam tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan adalah pendekatan “problem solving“ tentang pendidikan. Namun kita masih sedikit tahu apa sebenarnya mendidik dan mengajar itu.

Teknologi pendidikan bukanlah terutama mengenai alat audio-visual, komputer, dan internet. Walaupun alat audio-visual telah jauh perkembangannya, dalam kenyataan alat-alat ini masih terlampau sedikit dimanfaatkaan. Pengajaran masih banyak dilakuakan secara lisan tanpa alat audio-visual, komputer, internet walaupun tersedia. Dapat dirasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan resource-based learning “atau belajar dengan menghadap anak-anak langsung dengan berbagai sumber, seperti buku dalam perpustakaan, alat audio-visual, komputer, internet dan sumber lainya.

II.2.1 Fungsi Media Pembelajaran

Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya. AECT (Association for Education and Communicatian Technology) dalam Harsoyo (2002) memaknai media sebagai segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi. NEA (National Education Association) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Raharjo (1991) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media, yaitu Gagne yang menempatkan media sebagai komponen sumber, mendefinisikan media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Briggs berpendapat bahwa media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, yang mendefinisikan media sebagai wahana fisik yang mengandung materi instruksional.

Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan, di mana ia mendefinisikan media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan instruksional. Yusuf hadi Miarso memandang media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.

Harsoyo (2002) menyatakan bahwa banyak orang membedakan pengertian media dan alat peraga. Namun tidak sedikit yang menggunakan kedua istilah itu secara bergantian untuk menunjuk alat atau benda yang sama (interchangeable). Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya dan bukan pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran saja; dan sumber belajar disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh proses atau kegiatan pembelajaran dan ada semacam pembagian tanggungjawab antara guru di satu sisi dan sumber lain (media) di sisi lain. Pembahasan pada pelatihan ini istilah media dan alat peraga digunakan untuk menyebut sumber atau hal atau benda yang sama dan tidak dibedakan secara substansial.

Rahardjo (1991) menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, yaitu sebagai alat bantu pembelajaran. Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk:
1. Memotivasi belajar peserta didik
2. Memperjelas informasi/pesan pengajaran
3. Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
4. Memberi variasi pengajaran
5. Memperjelas struktur pengajaran.
Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, di mana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar.2. Kemampuan media sebagai alat bantu kegiatan pembelajaran.

Rahardjo (1991) menguraikan dengan berangkat dari teori belajar diketahui bahwa hakekat belajar adalah interaksi antara peserta didik yang belajar dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku belajar dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak jelas menjadi jelas, dsb. Sumber belajar tersebut dapat berupa pesan, bahan, alat, orang, teknik dan lingkungan. Proses belajar tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti sikap, pandangan hidup, perasaan senang dan tidak senang, kebiasaan dan pengalaman pada diri peserta didik. Bila peserta didik apatis, tidak senang, atau menganggap buang waktu maka sulit untuk mengalami proses belajar. Faktor eksternal merupakan rangsangan dari luar diri peserta didik melalui indera yang dimilikinya, terutama pendengaran dan penglihatan. Media pembelajaran sebagai faktor eksternal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi belajar karena mempunyai potensi atau kemampuan untuk merangsang terjadinya proses belajar. Contohnya :
• Menghadirkan obyek langka: koleksi mata uang kuno,
• Konsep yang abstrak menjadi konkrit: pasar, bursa,
• Mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak: siaran radio atau televisi pendidikan,
• Menyajikan ulangan informasi secara benar dan taat asas tanpa pernah jemu: buku teks, modul, program video atau film pendidikan,.
• Memberikan suasana belajar yang santai, menarik, dan mengurangi formalitas.
Edgar Dale dalam Rahardjo (1991) menggambarkan pentingya visualisasi dan verbalistis dalam pengalaman belajar yang disebut “Kerucut pengalaman Edgar Dale” dikemukakan bahwa ada suatu kontinuum dari konkrit ke abstrak antara pengalaman langsung, visual dan verbal dalam menanamkan suatu konsep atau pengertian. Semakin konkrit pengalaman yang diberikan akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Namun, agar terjadi efisiensi belajar maka diusahakan agar pengalaman belajar yang diberikan semakin abstrak (“go as low on the scale as you need to ensure learning, but go as high as you can for the most efficient learning”).

Raharjo (1991 menyatakan bahwa visualisasi mempermudah orang untuk memahami suatu pengertian. Sebuah pemeo mengatakan bahwa sebuah gambar “berbicara“ seribu kali dari yang dibicarakan melalui kata-kata (a picture is worth a thousand words). Hal ini tidaklah berlebihan karena sebuah durian “monthong” atau gambarnya akan lebih menjelaskan barangnya (atau pengertiannya) daripada definisi atau penjelasan dengan seribu kata kepada orang yang belum pernah mengenalnya. Salah satu dari sarana visual yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar tersebut adalah OHT atau “overhead transparency.“ Sarana visual seperti OHT ini bila digarap dengan baik dan benar. Di samping dapat mempermudah pemahaman konsep dan daya serap belajar siswa, juga membantu pengajar untuk menyajikan materi secara terarah, bersistem dan menarik sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Inilah manfaat yang harus dioptimalkan dalam pembuatan rancangan media seperti OHT ini.

II.2.2 Jenis-jenis media.
Media cukup banyak macamnya, Raharjo (1991) menyatakan bahwa ada media yang hanya dapat dimanfaatkan bila ada alat untuk menampilkanya. Ada pula yang penggunaannya tergantung pada hadirnya seorang guru, tutor atau pembimbing (teacher independent). Media yang tidak harus tergantung pada hadirnya guru lazim tersebut media instruksional dan bersifat “self Contained”, maknanya: informasi belajar, contoh, tugas dan latihan serta umpanbalik yang diperlakukan telah diprogramkan secara terintegrasi.

Dari berbagai ragam dan bentuk dari media pengajaran, pengelompokan atas media dan sumber belajar ekonomi dapat juga ditinjau dari jenisnya, yaitu dibedakan menjadi media audio, media visual, media audio-visual, dan media serba neka.

a. Media Audio : radio, piringan hitam, pita audio, tape recorder, dan telepon
b. Media Visual :
1. Media visual diam : foto, buku, ansiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip) , transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar kartun, peta, dan globe.
2. Media visual gerak : film bisu
3. Media Audio-visual
c. Media audiovisual diam : televisi diam, slide dan suara, film rangkai dan suara.
d. Media audiovisual gerak : video, CD, film rangkai dan suara, televisi, gambar dan suara.
e. Media Serba aneka :
1. Papan dan display : papan tulis, papan pamer/pengumuman/majalah dinding, papan magnetic, white board, mesin pangganda.
2. Media tiga dimensi : realia, sampel, artifact, model, diorama, display.
3. Media teknik dramatisasi : drama, pantomim, bermain peran, demonstrasi, pawai/karnaval, pedalangan/panggung boneka, simulasi.
4. Pembelajaran dengan perangkat komputer (E-learning dan I-Learning) E-learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.

II.2.3 SOFTWARE BAHAN AJAR

Teknologi selalu mencakup hardware dan software. Hardware akan berguna apabila tersedia software di dalamnya, demikian pula sebaliknya software baru akan dapat bermanfaat apabila ada hardware yang menjalankannya. Software dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu software operating sistem (OS), software aplikasi, dan software data atau konten. OS adalah software yang berfungsi sebagai sistem operasi, seperti DOS, Windows, Linux, dan Unix. Aplikasi adalah software yang digunakan untuk membangun atau menjalankan proses sesuai dengan perintah-perintah pemrograman, misalnya office, LMS, CMS, dll. Sedangkan data atau bahan ajar termasuk ke dalam kelompok software konten, misalnya bahan ajar baik berupa teks, audio, gambar, video, animasi, dll.

Dalam pengertian yang paling sederhana, suatu proses belajar akan terjadi apabila tersedia sekurang-kurangnya dua unsur, yakni orang yang belajar dan sumber belajar. Sumber belajar mencakup orang (nara sumber), alat (hardware), bahan (software), lingkungan (latar, setting), dll. Bahan ajar adalah salah satu jenis dari sumber belajar.

Bahan belajar merupakan elemen penting dalam elearning. Tidak ada elearning tanpa ketersediaan bahan belajar. Untuk itu, maka kemampuan seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis web menjadi sangat penting.

II.2.4 JEJARING SOSIAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA

Sekarang ini dimana internet sudah menjadi kebutuhan penting masyarakat maka penyedia jasa di internet pun makin beragam pula. Terlepas dari itu semua, internet juga memiliki berjuta manfaat positif, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Selain tampilan yang mempesona konsep yang ditawarkanpun makin menarik dan beragam untuk kita coba, misalnya situs-situs internet yang memfokuskan diri pada dunia pendidikan maupun pembelajaran sekarang ini tampil dalam format social networking atau kita kenal dengan istilah situs jejaring sosial.
Tujuan dari inovasi tersebut tentu untuk menarik minat siswa agar makin intens belajar dan guru sebagai pengajar dapat lebih mudah sharing ilmu pengetahuannya, plus aktivitas di situs jejaring sosial yang menjadi kesenangan para pengguna internet dalam hal ini para siswa sekolah juga ikut mendorong aktivitas dalam belajar melalui jejaring sosial ini.
Interaksi antar manusia ini tentu tidak akan pernah lepas dari istilah komunikasi. Terlebih lagi, di jaman globalisasi seperti ini komunikasi semakin berkembang. Hal inilah yang kemudian mendorong manusia untuk terus menciptakan dan mengembangkan media yang membantu kegiatan komunikasi manusia. Sejak ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1876, perkembangan teknologi komunikasi semakin pesat. Hingga saat ini, sudah bermunculan berbagai sistem komunikasi yang semakin praktis dan cepat seperti E-mail, Yahoo Messenger, Twitter dan Facebook.
Dari berbagai cara berkomunikasi yang ada, salah satu sistem komunikasi yang saat ini banyak digunakan adalah Facebook. Sejak kemunculan Facebook pada tahun 2004, Facebook sudah menjadi sara komunikasi favorit bagi seluruh orang di dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data dari http://www.checkfacebook.com/ anggota Facebook di Indonesia sudah mencapai 40.139.480, sedangkan untuk anggota Facebook di seluruh dunia mencapai 6,77 miliar. Dari jumlah tersebut, Indonesia menduduki urutan keempat negara dengan pengguna Facebook terbanyak setelah Cina dengan 1,34 miliar anggota, India dengan 1,2 miliar anggota dan Amerika 307 juta anggota.
Alasan utama begitu banyaknya pengguna Facebook di dunia tidak lain karena kemudahan pengoperasiannya dan adanya berbagai fitur pendukung komunikasi. Melalui Facebook, anggota tidak hanya dapat berkomunikasi dengan obrolan (chatting) saja, tapi para anggota Facebook juga dapat mengunggah foto, mengirim berkas lampiran maupun pesan kepada anggota Facebook yang lain. Bahkan, di dalam Facebook juga tersedia fitur Group untuk komunitas atau forum – forum khusus sesuai dengan minat anggotanya.
Akan tetapi, dari berbagai fitur yang ada di dalam Facebook itu sendiri, kebanyakan masih digunakan untuk hal – hal yang kurang memberikan manfaat. Sudah begitu sering para pengguna Facebook menjadikan Facebook sebagai tempat untuk curhat masal. Seperti status “galau…” atau “hmm,sedih aku” dan sebagainya. Akan sangat disayangkan jika media yang sudah begitu bagus dengan kelengkapan fiturnya hanya digunakan untuk hal – hal yang kurang bermanfaat.
Salah satu cara untuk memaksimalkan Facebook itu sendiri adalah dengan memanfaatkan fitur Group pada Facebook untuk media belajar bahasa Inggris. Karena pengaksesan Facebook tidak terbatas pada jarak dan waktu, maka siapapun dapat berkomunikasi dengan orang yang berasal dari negara lain. kelebihan inilah yang dapat dimanfaatkan untuk menjadikan Facebook sebagai media belajar.
Langkah pemanfaatannya dapat berupa :
1. Membuat Group Facebook dengan anggota yang kesemuanya berasal dari Indonesia, kemudian menjadikan salah satu pengguna Facebook sebagai tutornya.
Cara ini lebih mengutamakan hubungan interpersonal dan kesepakatan terlebih dahulu dari para anggota yang hendak masuk dalam Group ini. Begitu pula dengan masalah tutor, pihak administrator dari group Facebook ini harus terlebih dulu menghubungi pihak yang dapat menjadi tutor di dalam Group dengan pendekatan secara personal.
Untuk proses belajarnya pun dapat disesuaikan dan menurut kesepakatan bersama baik mengenai waktu maupun materi atau kecakapan yang hendak dipelajari. Seperti dalam satu minggu sekali, para anggota Group dapat melakukan diskusi dan percakapan dalam bahasa Inggris sebagai bentuk latihan speaking, kemudian pihak yang menjadi tutor dapat membenarkan percakapan atau ekspresi yang keliru. Begitu pula untuk latihan writting, para anggota dapat diminta untuk membuat karangan dalam bahasa Inggris yang kemudian dapat dikirim ke pihak tutor melalui inbox attacment pada Facebook.
2. Menambahkan anggota Facebook yang berasal dari negara asing terutama seorang native dari Inggris ataupun Amerika sebagai teman Facebooknya. Dengan menambahkan teman Facebook dari negara asing tentu ketika berkomunikasi kita akan menggunakan bahasa Inggris. dari sinilah kita dapat berlatih untuk melakukan percakapan menggunakan bahasa Inggris meskipun masih dalam bentuk tulisan. Dari percakapan yang terjadi itu pula, kita dapat belajar mengenai berbagai cara untuk mengekspresikan kata – kata dengan bahasa Inggris.
Melalui dua cara sederhana ini, diharapkan para anggota Facebook tidak hanay dapat memandang Facebook sebagai media sosial saja, tapi juga bisa menjadikan Facebook sebagai media belajar.

II.2.5 Plus Minus Penggunaan Multimedia / E-Learning

Manfaat E-Learning Dalam Pembelajaran

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik.

Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

Dari Sudut Peserta Didik

Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan instruktur setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

Dari Sudut Instruktur

Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa manfaat yang diperoleh instruktur antara lain adalah bahwa instruktur dapat:
1. Llebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi,
2. Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak,
3. Mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang,
4. Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan
5. Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:
Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.

Mengapa?
Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).
Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.
Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.

Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).

Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :
1. Melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir
2. Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya
3. Mengontrol kegiatan belajar peserta didik.
Untuk itu para guru dapat membuat pola pembelajaran melalui konsep E-Learning sebagai tambahan materi di luar konsep pembelajaran yang konvensional melalui tatap muka di kelas. Lalu bagaimanakah cara membuat situs E-Learning ? E-Learning dapat dibuat dengan berbagai macam program seperti Microsoft Power Point atau program lainnya. Dan dapat pula dibuat dengan menggunakan Web Blog seperti blogger.com, multiply.com atau wordpress.com dan lain-lainnya.

Dengan memiliki Web/ Blog para guru dapat menyajikan program materi pengajaran melalui Web Blog, selain memiliki Web Blog secara pribadi, guru dapat memberikan tugas kepada siswa melalui Web Blognya sehingga siswa dapat mendownload materi ataupun tugas yang diberikan oleh gurunya dan dapat dikerjakan oleh siswa yang hasilnya dikirimkan melalui e-mail gurunya masing-masing atau dicetak dan dikumpulkan di kelas.Dengan menggunakan layanan yang ada di internet maka telah dilaksanakan konsep E-Learning pada dunia pendidikan. Untuk itu sudah saatnya para guru atau praktisi dunia pendidikan untuk dapat memiliki Web Blog dan E-Mail sebagai sarana komunikasi antara guru dengan peserta didik. Semoga dengan melalui E-Learning, mutu pendidikan di sekolah dapat ditingkatkan sehingga pendidikan dapat merata dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN dan SARAN

APA SAJA KEGUNAAN PEMERIKSAAN TREADMILL ITU 1 Diagnostik…

APA SAJA KEGUNAAN PEMERIKSAAN TREADMILL ITU?
1. Diagnostik
2. Menentukan kapasitas kerja fisik seseorang serta effort tolerance
secara objektif,misalnya

GEJALA-GEJALA TERKENA STRESS
 Gejala Fisikal
 Gejala Emosional
 Gejala Intelektual
 Gejala Sosial
BILA SESEORANG YANG SEHAT TERTULAR HIV
1. Selama 3-6 bulan dalam darahnya belum ditemukan HIV (tes darah negatif)
2. Setelah 3-6 bulan,test darah akan HIV positif,berarti orang ini biarpun segar bugar,siap menularkan HIV kepada orang lain (menjadi pengidap/carier)
3. Biasanya baru sekitar 5-10 tahun kemudian mulai timbul gejala-gejala AIDS seperti :
a. Letih,lemah,lesu
b. Berat badan menurun drastis
c. Demam/panas lebih dari satu bulan
d. Diare lebih dari satu bulan
e. Sesak nafas dan batuk kering

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT Tuhan…

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmatNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjunan kita nabi Muhammad SAW, yang telah menjadi suritauladan bagi umat manusia, sehingga sampai detik ini kami masih merasakan indahnya iman dan islam.
Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen, pembimbing yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Mungkin makalah ini kurang dari sempurna, jadi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang mau membacanya, sehingga ini menjadi amal jariah bagi kami.

Bandung, 22 November 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
I.3. PERUMUSAN MASALAH
I.4. TUJUAN PENULISAN
I.5. METODE PENULISAN

BAB II ISI PEMBAHASAN
II.1 KONSEP DASAR MULTIMEDIA
II.1.1 PENGERTIAN MULTIMEDIA
II.2 MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN
II.2.1 FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
II.2.2 JENIS-JENIS MEDIA.
II.2.3 SOFTWARE BAHAN AJAR
II.2.4 JENIS BAHAN AJAR
II.2.5 UNSUR-UNSUR BAHAN AJAR
II.2.6 PLUS MINUS PENGGUNAAN MULTIMEDIA / E-LEARNING

BAB 111 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi informasi sekarang ini, semakin marak dan berkembang pesat, sehingga banyak membantu masyarakat dunia untuk menikmati berbagai kemudahan yang telah di hasilkan oleh teknologi tersebut. Sebagai konsekuensi logis dari penerapan teknologi yang tunggal adalah kemajuan suatu bidang usaha yang memanfaatkan teknologi yang berdaya guna dan tepat guna, berdampingan bersama aktifitas sumber daya pengolah dan kelengkapan infrastruktur penunjangnya.
Salah satu bentuk perkembangan teknologi yang menonjol adalah bidang Komputer dan layanan Internet, khususnya bidang multimedia yang sangat berperan dalam penyampaian berita atau informasi. Komputer multimedia dapat di pakai dalam berbagai bentuk kehidupan di antaranya untuk membuat iklan televisi, untuk keperluan presentasi atau seminar yang berbentuk interaktif.
Cara untuk mensukseskan program tersebut diperlukan aplikasi multimedia sebagai sarana komunikasi antara pengajar dan anak didik. Disini penulis akan menjelaskan mengenai cara cermat dalam memudahkan anak-anak untuk lebih cepat mengerti dan mudah memahami materi yang disampaikan.
Dengan dasar tesebut maka penulis mencoba memberikan solusi dengan membuat layanan informasi pembelajaran melalui Jejaring social untuk menarik minat peserta didik.

I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Melihat semua hal yang melatarbelakangi penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia. Kami mengidentifikasi sejumlah masalah
1. Kurangya pengetahuan mengenai penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran berbasis multimedia
2. Tidak meratanya bahan pembelajaran yang didukung layanan fasilitas multimedia yang seharusnya dapat dinikmati peserta didik di Indonesia.

I.3. PERUMUSAN MASALAH
Atas dasar penentuan latar belakang dan identiikasi masalah diatas, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
”Apa itu Media pembelajaran Berbasis Multimedia dan Bagaimana menerapkan kepada pembelajaran serta apa manfaatnya ?”

I.4. TUJUAN PENULISAN
Penulisan ini dilakukan untuk dapat memberikan informasi bahwa media pembelajaran berbasis multimedia sangat dibutuhkan baik sekarang maupun nant di masa yang akan dating. Kebutuhan global yang mendesak manusia untuk lebih berfikir secara modern dan berwawasan luas dituntut untuk memahami multimedia.

I.5. METODE PENULISAN
Untuk mendapatkan data dan informasi yang di perlukan, penulis mempergunakan metode observasi atau teknik pengamatan langsung, teknik wawancara, dan tidak hanya itu, kami juga mencari bahan dan sumber-sumber dari media masa elektronik yang berjangkauan internasional yaitu, Internet.

BAB II
ISI PEMBAHASAN

II.1 Konsep Dasar Multimedia
II.1.1 Pengertian Multimedia
Istilah multimedia berawal dari teater, bukan komputer. Pertunjukan yang memanfaatkan lebih dari satu medium, seringkali disebut dengan pertunjukan multimedia. Pertunjukan multimedia mencakup monitor video, synthesize band, dan karya seni manusia sebagai bagian dari pertunjukan. Multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggambar teks, grafik, audio, gambar gerak (video animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, interaksi, dan berkomunikasi. Dalalm devinisi ini terkadang 4 (empat) komponen penting multimedia. Pertama, harus ada komputer yang mengkoordinasikan apa yang didengar dan dilihat, yang berinteraksi dengan pengunjung. Kedua, harus ada link yang menghubungkan pengunjung dengan informasi. Ketiga, harus ada alat navigasi yang memandu menjelajah informasi yang saling terhubung. Keempat, multimedia memberikan tempat untuk untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan informasi dan ide Alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan text, grafik, animasi, audio dan video.

II.2 Multimedia dalam Pembelajaran

Nasution (1987) menguraikan bahwa perkembangan media komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat akhir-akhir ini. Hal ini diawali dari penemuan alat cetak oleh Guntenberg pada abad ke lima belas tentang buku yang ditulis yang melahirkan buku-buku cetakan. Penemuan fotografi mempercepat cara illustrasi. Lahirnya gambar hidup memungkinkan kita melihat dalam “slow motion“ apa yang dahulu tak pernah dapat kita amati dengan teliti.

Rekaman memungkinkan kita mengulangi lagu-lagu yang dibawakan oleh orkes-orkes terkenal. Radio dan televisi menambah dimensi baru kepada media komunikasi . Video recorder memungkinkan kita merekam program TV yang dapat kita lihat kembali semua kita. Kemampuan membuat kertas secara masinal membawa revolusi dalam media komunikasi dengan penerbitan surat kabar dan majalah dalam jumlah jutaan rupiah tiap hari. Komputer membuka kesempatan yang tak terbatas untuk menyimpan data dan digunakan setiap waktu diperlukan para pendidik segera melihat manfaat kemajuan dalam media komunikasi itu bagi pendidikan. Buku sampai sekarang masih memegang peranan yang penting sekali dan mungkin akan masih demikian halnya dalam waktu yang lama. Namun ada yang optimis yang meramalkan bahwa dalam waktu dekat semua aspek kurikulum akan di-komputer-kan .Memang kemampuan komputer sungguh luar biasa .

Dalam sehelai nikel seluas 20 x 25 cm dapat disimpan isi perpustakaan yang terdiri atas 20.000 jilid. Namun ramalan bahwa seluruh kurikulum akan di-komputer-kan dalam waktu dekat rasanya masih terlampau optimis . Sewaktu gambar hidup ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1913 telah diramalkan bahwa buku-buku segera akan digantikan oleh gambar hidup dan seluruh pengajaran akan dilakukan tidak lagi melalui pendengaran akan tetapi melalui penglihatan. Namun tak dapat disangkal faedah berbagai media komunikasi bagi pendidikan.

Ada yang berpendapat bahwa banyak dari apa yang diketahui anak pada zaman modern ini diperolehnya melalui radio, film, apalagi melalui televisi, jadi melalui media massa. Cara-cara untuk menyampaikan sesuatu melalui TV misalnya yang disajikan dengan bantuan para ahli media massa jauh lebih bermutu dari pelajaran yang diberikan oleh guru dalam kelas.

Penggunaan alat media dalam pendidikan melalui dengan gerakan “audio-visual aids“ pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Sebagai “aids“ alat-alat itu dipandang sebagai pembantu guru dalam mengajar, sebagai ekstra atau tambahan yang dapat digunakan oleh guru bila dikehendakinya. Namun pada tahun 1960-an timbul pikiran baru tentang penggunaannya, yang dirintis oleh Skinner dengan penemuannya “ programmed instruction“ atau pengajaran berprograma. Dengan alat ini anak dapat belajar secara individual. Jadi alat ini bukan lagi sekedar alat bantuan tambahan akan tetapi sesuatu yang digunakan oleh anak dalam proses belajarnya. Belajar beprograma mempunyai pengaruh yang besar sekali pada perkembangan teknologi pendidikan.

Di Amerika Serikat teknologi pendidikan dipandang sebagai media yang lahir dari revolusi media komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan di samping, guru, buku, dan papan tulis. Di Inggris teknologi pendidikan dipandang sebagai pengembangan, penerapan, dan sistem evaluasi, teknik dan alat-alat pendidikan untuk memperbaiki proses belajar. Teknologi pendidikan adalah pendekatan yang sistematis terhadap pendidikan dan latihan, yakni sistematis dalam perumusan tujuan, analisis dan sintesis yang tajam tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan adalah pendekatan “problem solving“ tentang pendidikan. Namun kita masih sedikit tahu apa sebenarnya mendidik dan mengajar itu.

Teknologi pendidikan bukanlah terutama mengenai alat audio-visual, komputer, dan internet. Walaupun alat audio-visual telah jauh perkembangannya, dalam kenyataan alat-alat ini masih terlampau sedikit dimanfaatkaan. Pengajaran masih banyak dilakuakan secara lisan tanpa alat audio-visual, komputer, internet walaupun tersedia. Dapat dirasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan resource-based learning “atau belajar dengan menghadap anak-anak langsung dengan berbagai sumber, seperti buku dalam perpustakaan, alat audio-visual, komputer, internet dan sumber lainya. Kesulitan juga akan dihadapi dalam pengadminitrasiannya. Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber, diantaranya :
1. Belajar berdasarkan sumber (BBS ) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio visual dan memberikan kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia . Ini tidak berarti bahwa pengajaran berbentuk ceramah ditiadakan. Ini berari bahwa dapat digunakan segala macam metode yang dianggap paling serasi untuk tujuan tertentu.
2. BBS (belajar berdasarkan sumber) berusaha memberi pengertian kepada murid tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Sumber-sumber itu berupa sumber dari masyarakat dan lingkungan berupa manusia, museum, organisaisi, dan lain-lain bahan cetakan, perpustakaan, alat, audio-visual ,dan sebagainya. Mereka harus diajarkan teknik melakukan kerja-lapangan, menggunakan perpustakaan, buku referensi, komputer dan internet sehingga mereka lebih percaya akan diri sendiri dalam belajar .
Pada era sekarang ini muncul kebutuhan software yang dapat mempermudah dan merperindah tampiran presentasi dalam pengajaran. Kebutuhan ini dapat kita peroleh dari produk program Microsoft Power Point yang merupakan salah satu dari paket Microsoft office. Pogram ini menyediakan banyak fasilitas untuk membuat suatu presentasi.

II.2.1 Fungsi Media Pembelajaran

Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya. AECT (Association for Education and Communicatian Technology) dalam Harsoyo (2002) memaknai media sebagai segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi. NEA (National Education Association) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Raharjo (1991) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media, yaitu Gagne yang menempatkan media sebagai komponen sumber, mendefinisikan media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Briggs berpendapat bahwa media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, yang mendefinisikan media sebagai wahana fisik yang mengandung materi instruksional.

Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan, di mana ia mendefinisikan media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan instruksional. Yusuf hadi Miarso memandang media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.

Harsoyo (2002) menyatakan bahwa banyak orang membedakan pengertian media dan alat peraga. Namun tidak sedikit yang menggunakan kedua istilah itu secara bergantian untuk menunjuk alat atau benda yang sama (interchangeable). Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya dan bukan pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran saja; dan sumber belajar disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh proses atau kegiatan pembelajaran dan ada semacam pembagian tanggungjawab antara guru di satu sisi dan sumber lain (media) di sisi lain. Pembahasan pada pelatihan ini istilah media dan alat peraga digunakan untuk menyebut sumber atau hal atau benda yang sama dan tidak dibedakan secara substansial.

Rahardjo (1991) menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, yaitu sebagai alat bantu pembelajaran. Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk:
1. Memotivasi belajar peserta didik
2. Memperjelas informasi/pesan pengajaran
3. Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
4. Memberi variasi pengajaran
5. Memperjelas struktur pengajaran.
Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, di mana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar.2. Kemampuan media sebagai alat bantu kegiatan pembelajaran.

Rahardjo (1991) menguraikan dengan berangkat dari teori belajar diketahui bahwa hakekat belajar adalah interaksi antara peserta didik yang belajar dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku belajar dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak jelas menjadi jelas, dsb. Sumber belajar tersebut dapat berupa pesan, bahan, alat, orang, teknik dan lingkungan. Proses belajar tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti sikap, pandangan hidup, perasaan senang dan tidak senang, kebiasaan dan pengalaman pada diri peserta didik. Bila peserta didik apatis, tidak senang, atau menganggap buang waktu maka sulit untuk mengalami proses belajar. Faktor eksternal merupakan rangsangan dari luar diri peserta didik melalui indera yang dimilikinya, terutama pendengaran dan penglihatan. Media pembelajaran sebagai faktor eksternal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi belajar karena mempunyai potensi atau kemampuan untuk merangsang terjadinya proses belajar. Contohnya :
• Menghadirkan obyek langka: koleksi mata uang kuno,
• Konsep yang abstrak menjadi konkrit: pasar, bursa,
• Mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak: siaran radio atau televisi pendidikan,
• Menyajikan ulangan informasi secara benar dan taat asas tanpa pernah jemu: buku teks, modul, program video atau film pendidikan,.
• Memberikan suasana belajar yang santai, menarik, dan mengurangi formalitas.
Edgar Dale dalam Rahardjo (1991) menggambarkan pentingya visualisasi dan verbalistis dalam pengalaman belajar yang disebut “Kerucut pengalaman Edgar Dale” dikemukakan bahwa ada suatu kontinuum dari konkrit ke abstrak antara pengalaman langsung, visual dan verbal dalam menanamkan suatu konsep atau pengertian. Semakin konkrit pengalaman yang diberikan akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Namun, agar terjadi efisiensi belajar maka diusahakan agar pengalaman belajar yang diberikan semakin abstrak (“go as low on the scale as you need to ensure learning, but go as high as you can for the most efficient learning”).

Raharjo (1991 menyatakan bahwa visualisasi mempermudah orang untuk memahami suatu pengertian. Sebuah pemeo mengatakan bahwa sebuah gambar “berbicara“ seribu kali dari yang dibicarakan melalui kata-kata (a picture is worth a thousand words). Hal ini tidaklah berlebihan karena sebuah durian “monthong” atau gambarnya akan lebih menjelaskan barangnya (atau pengertiannya) daripada definisi atau penjelasan dengan seribu kata kepada orang yang belum pernah mengenalnya. Salah satu dari sarana visual yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar tersebut adalah OHT atau “overhead transparency.“ Sarana visual seperti OHT ini bila digarap dengan baik dan benar. Di samping dapat mempermudah pemahaman konsep dan daya serap belajar siswa, juga membantu pengajar untuk menyajikan materi secara terarah, bersistem dan menarik sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Inilah manfaat yang harus dioptimalkan dalam pembuatan rancangan media seperti OHT ini.

II.2.2 Jenis-jenis media.
Media cukup banyak macamnya, Raharjo (1991) menyatakan bahwa ada media yang hanya dapat dimanfaatkan bila ada alat untuk menampilkanya. Ada pula yang penggunaannya tergantung pada hadirnya seorang guru, tutor atau pembimbing (teacher independent). Media yang tidak harus tergantung pada hadirnya guru lazim tersebut media instruksional dan bersifat “self Contained”, maknanya: informasi belajar, contoh, tugas dan latihan serta umpanbalik yang diperlakukan telah diprogramkan secara terintegrasi.

Dari berbagai ragam dan bentuk dari media pengajaran, pengelompokan atas media dan sumber belajar ekonomi dapat juga ditinjau dari jenisnya, yaitu dibedakan menjadi media audio, media visual, media audio-visual, dan media serba neka.

a. Media Audio : radio, piringan hitam, pita audio, tape recorder, dan telepon
b. Media Visual :
1. Media visual diam : foto, buku, ansiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip) , transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar kartun, peta, dan globe.
2. Media visual gerak : film bisu
3. Media Audio-visual
c. Media audiovisual diam : televisi diam, slide dan suara, film rangkai dan suara.
d. Media audiovisual gerak : video, CD, film rangkai dan suara, televisi, gambar dan suara.
e. Media Serba aneka :
1. Papan dan display : papan tulis, papan pamer/pengumuman/majalah dinding, papan magnetic, white board, mesin pangganda.
2. Media tiga dimensi : realia, sampel, artifact, model, diorama, display.
3. Media teknik dramatisasi : drama, pantomim, bermain peran, demonstrasi, pawai/karnaval, pedalangan/panggung boneka, simulasi.
4. Pembelajaran dengan perangkat komputer (E-learning dan I-Learning) E-learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.

II.2.3 Software Bahan Ajar

Teknologi selalu mencakup hardware dan software. Hardware akan berguna apabila tersedia software di dalamnya, demikian pula sebaliknya software baru akan dapat bermanfaat apabila ada hardware yang menjalankannya. Software dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu software operating sistem (OS), software aplikasi, dan software data atau konten. OS adalah software yang berfungsi sebagai sistem operasi, seperti DOS, Windows, Linux, dan Unix. Aplikasi adalah software yang digunakan untuk membangun atau menjalankan proses sesuai dengan perintah-perintah pemrograman, misalnya office, LMS, CMS, dll. Sedangkan data atau bahan ajar termasuk ke dalam kelompok software konten, misalnya bahan ajar baik berupa teks, audio, gambar, video, animasi, dll.

Dalam pengertian yang paling sederhana, suatu proses belajar akan terjadi apabila tersedia sekurang-kurangnya dua unsur, yakni orang yang belajar dan sumber belajar. Sumber belajar mencakup orang (nara sumber), alat (hardware), bahan (software), lingkungan (latar, setting), dll. Bahan ajar adalah salah satu jenis dari sumber belajar.

Bahan belajar merupakan elemen penting dalam elearning. Tidak ada elearning tanpa ketersediaan bahan belajar. Untuk itu, maka kemampuan seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis web menjadi sangat penting.

II.2.4 Jenis Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk konten baik teks, audio, foto, video, animasi, dll yang dapat digunakan untuk belajar. Ditinjau dari subjeknya, bahan ajar dapat dikatogorikan menjadi dua jenis, yakni bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar dan bahan yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Banyak bahan yang tidak dirancang untuk belajar, namun dapat digunakan untuk belajar, misalnya kliping koran, film, sinetron, iklan, berita, dll.

Karena sifatnya yang tidak dirancang, maka pemanfaatan bahan ajar seperti ini perlu diseleksi sesuai dengan tujuan pembelajaran. Bahan belajar yang dirancang adalah bahan yang dengan sengaja disiapkan untuk keperluan belajar. Ditinjau dari sisi fungsinya, bahan ajar yang dirancang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu bahan presentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. Sedangkan ditinjau dari media, bahan ajar dapat kelompokkan menjadi bahan ajar cetak, audio, video, televisi, multimedia, dan web.

Sekurang-kurangnya ada empat ciri bahan ajar yang sengaja dirancang, yakni adanya tujuan yang jelas, ada sajian materi, ada petunjuk belajar, dan ada evaluasi keberhasilan belajar.

II.2.5 Unsur-unsur bahan ajar

Bahan ajar setidak tidaknya harus memiliki enam unsur, yaitu mencakup tujuan, sasaran, uraian materi, sistematika sajian, petunjuk belajar, dan evaluasi. Sebuah bahan ajar harus mempunyai tujuan. Tujuan harus dirumuskan secara jelas dan terukur mencakup kriteria ABCD (audience, behavior, criterion, dan degree). Sasaran perlu dirumuskan secara spesifik, untuk siapa bahan relajar itu ditujukan. Sasaran bukan sekedar mengandung pernyataan subjek orang, Namur juga harus mencakup kemampuan apa yang menjadi prasyarat yang harus sudah mereka kuasai agar dapat memahami bahan ajar ini.

II.2.6 Plus Minus Penggunaan Multimedia / E-Learning

Manfaat E-Learning Dalam Pembelajaran

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik.

Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

Dari Sudut Peserta Didik

Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan instruktur setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

Dari Sudut Instruktur

Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa manfaat yang diperoleh instruktur antara lain adalah bahwa instruktur dapat:
1. Llebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi,
2. Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak,
3. Mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang,
4. Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan
5. Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:
Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.

Mengapa?
Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).
Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.
Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.

Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).

Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :
1. Melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir
2. Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya
3. Mengontrol kegiatan belajar peserta didik.
Untuk itu para guru dapat membuat pola pembelajaran melalui konsep E-Learning sebagai tambahan materi di luar konsep pembelajaran yang konvensional melalui tatap muka di kelas. Lalu bagaimanakah cara membuat situs E-Learning ? E-Learning dapat dibuat dengan berbagai macam program seperti Microsoft Power Point atau program lainnya. Dan dapat pula dibuat dengan menggunakan Web Blog seperti blogger.com, multiply.com atau wordpress.com dan lain-lainnya.

Dengan memiliki Web/ Blog para guru dapat menyajikan program materi pengajaran melalui Web Blog, selain memiliki Web Blog secara pribadi, guru dapat memberikan tugas kepada siswa melalui Web Blognya sehingga siswa dapat mendownload materi ataupun tugas yang diberikan oleh gurunya dan dapat dikerjakan oleh siswa yang hasilnya dikirimkan melalui e-mail gurunya masing-masing atau dicetak dan dikumpulkan di kelas.Dengan menggunakan layanan yang ada di internet maka telah dilaksanakan konsep E-Learning pada dunia pendidikan. Untuk itu sudah saatnya para guru atau praktisi dunia pendidikan untuk dapat memiliki Web Blog dan E-Mail sebagai sarana komunikasi antara guru dengan peserta didik. Semoga dengan melalui E-Learning, mutu pendidikan di sekolah dapat ditingkatkan sehingga pendidikan dapat merata dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN dan SARAN

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian dan Hakikat Fungsi…

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Hakikat Fungsi Penggerakkan
Definisi fungsi penggerakkan menurut para ahli Drs. Malayu Hasibuan
Pengerakkan/ pengarahan adalah mengarahkan semua karyawan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif dalam mencapai tujuan perusahaan.
G.R.Terry
Actuating is setting all members of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective willingly and keeping with the managerial planning and organizing efforts.
Artinya:
Penggerakkan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha – usaha pengorganisasian.
Koontz dan O’Donnel
Directing and leading are the interpersonal aspects of managing by which subordinate are led to understand dan contribute effectively and efficiensy to the attaiment of enterprise objectives.
Muninjaya, G, A, A. 2004
Penggerakkan adalah hubungan antara aspek – aspek individual yang ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahan – bawahan untuk dapat dipahami dan pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang nyata.
Fungsi aktuasi merupakan usaha untuk menciptakan iklim kerja sama di antara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Fungsi aktuasi tidak terlepas dari fungsi manajemn lainnya. Fungsi penggerak dan pelaksanaan dalam istilah lainnya yaitu actuating (memberi bimbingan), motivating (membangkitkan motivasi), directing (memberikan arah), influencing (mempengaruhi) dan commanding (memberikan komando atau perintah).
Jadi, penggerakkan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk membimbing, menggerakkan , mengatur segala kegiatan yang telah diberi tugas dalam melaksanakan sesuatu kegiatan usaha.
Penggerakkan dapat dilakukan dengan cara persuasif atau bujukan dan instruktif, tergantung bagaimana cara yang paling efektif.
Penggerakkan dapat dikatakan efektif, jika dipersiapkan dan dikerjakan dengan baik serta benar oleh karyawan yang ditugasi untuk itu.
Berbagai karya tulis tentang prinsip – prinsip, proses, dan fungsi – fungsi manajemen menunjukan aneka ragam istilah yang digunakan untuk menjelaskan fungsi penggerkakkan ini. Beberapa contoh di bawah ini menunjukan apa yang dimaksud.
1. Henry Fayol, seorang yang diakui sebagai salah saeorang pelopor pertumbuhan dan perkembangan ilmu administrasi, terutama disoroti dari sudut pandangan manajeman puncak, menggunakan istilah commanding untuk penggerakkan sepeti terlihat dalam karyanya yang monumental, yaitu General and Industrial Administration. Fayol tampaknya berpendapat bahwa cara terbaik untuk menggerakkan para anggota organisasi adalah dengan cara pemberian komando dan tanggung jawab para bawahan terletak pada pelaksanaan perintah yang diberikan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa tersirat dari penggunaan istilah commanding adalah konsepsi bahwa para bawahan perlu digerakkan dengan adanya otokratik. Misalnya, dalam hal pengambilan keputusan keterlibatan para pelaksana tampaknya tidak dianggap penting. Pimpinanlah yang mengambil keputusan dan para bawahan melaksanakannya. Sesungguhnya hal yang demikian itu tidaklah benar.
2. Luther Gullick, dalam karyanya Papers on the Science of Administration menggunakan istilah directing sebagai fungsi manajerial yang dimaksudkan untuk menggerakkan para bawahan. Istilah directing mempunyai makna pemberian petunjuk dan penentuan arah yang harus ditempuh oleh para pelaksana kegiatan operasional. Diterapkan dalam kehidupan organisasional, directing antara lain berarti bahwa di kalangan para manajer terdapat persepsi bahwa para bawahan adalah orang – orang yang tingkat kematanganya, dalam arti teknis dan psikologis adalah sedemikian rupa sehingga perlu terus – menerus dibimbing, dituntun, dan diarahkan. Dalam proses pengambilan keputusan, misalnya, pimpinanlah yang mengambil keputusan, hanya saja sebelum keputusan dilaksanakan, hal itu diinformasikan kepada para pelaksana agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil. Peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan nyaris tidak ada.
3. Seorang penulis lain yang dikenal luas ialah George R.Terry yang menggunakan istilah actuating untuk pengerakkan seperti dapat dilihat dalam bukunya Principles of Management. Istilah Actuating jelas menunjukan persepsi yang lebih lunak dibandingkan dengan istilah commanding dan directing. Dengan menggunakan pengambilan keputusan lagi sebagai contoh, gaya yang digunakan oleh seorang manajer ialah bahwa manajer yang bersangkutan sebenarnya sudah mempunyai gambaran tentang bentuk dan jenis keputusan yang diambilnya. Akan tetapi sebelum keputusan final diambilnya, seorang manajer yang berpendapat bahwa penggerakkan bahawan sebaiknya dilalukan dengan actuating biasanya berkonsultasi lebih dahulu dengan orang – orang yang akan bertindak sebagai pelaksana keputusan tersebut. Akan tetapi, biasanya yang menjadi sasaran konsultasi itu lebih diarahkan unuk meyakinkan diri sendiri tentang kemampuannya mengambil keputusan dan bukan untuk mengubah keputusan tersebut.
4. Seorang ahli lain, John F.Mee menggunakan istilah motivating untuk menggambarkan cara penggerakkan bawahan yang dipandangnya paling tepat Motivating sebagai fungsi organik manajemen pada dasarnya berarti bahwa para menajer berusaha memberikan dorongan kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga kemampuan yang secara intrinsik terdapat dalam diri para bawahan itu digabung dengan dorongan dari luar dirinya, seperti dorongan dari organisasi, diharapkan mengakibatkan para organisasi secara ikhlas memberikan yang terbaik dalam dirinya, dalam bentuk persepsi yang tepat, tindak tanduk, dan perilaku positif, pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang dimiliki, kemahiran bekerja berdasarkan pengalaman dan pemanfaatan waktu sedemikian rupa sehingga tujuan dan sasaran tercapai.

2.2 Tujuan Fungsi Aktuasi

Fungsi aktuasi haruslah dimulai pada diri manajer selaku pimpinan organisasi. Manajer yang ingin berhasil menggerakkan karyawannya agar bekerja lebih produktif, harus memahami dan menerapkan ilmu psikologi, ilmu komunikasi, kepemimpinan dan sosiologi.

Seorang manajer harus mampu bersikap yaitu objektif dalam menghadapi berbagai persoalan organisasi melalui pengamatan, objektif dalam menghadapi perbedaan dan persamaan karakter stafnya baik sebagai individu maupun kelompok manusia. Manajer mempunyai tekad untuk mencapai kemajuan, peka terhadap lingkungan dan adanya kemampuan bekerja sama dengann orang lain secara harmonis.
Dengan kata lain, manajer harus peka dengan kodrat manusia yaitu mempunyai kekuatan dan kelemahan, tidak mungkin akan mampu bekerja sendiri dan pasti akan memerlukan bantuan orang lain, manusia mempunyai kebutuhan yang bersifat pribadi dan sosial, dan pada diri manusia kadang-kadang muncul juga sifat-sifat emosional.
Tujuan fungsi aktuasi lainnya adalah:
1. Menciptakan kerja sama yang lebih efisien

2. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf

3. Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan

4. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf

5. Membuat organisasi berkembang secara dinamis

2.3 Prinsip-prinsip Penggerakan

Ada beberapa prinsip dalam penggerakan staf suatu organisasi yang perlu

diperhatikan, yaitu:

1. Efisien

2. Komunikasi

3. Jawaban terhadap pertanyaan 5w + 1H

4. Penghargaan linsentif
2.4 pokok-pokok permasalahan
Pokok – pokok masalah yang dipelajari pada fungsi pengerakkan adalah:
1. Tingkah Laku Manusia
Pimpinan dalam membina kerja sama, mengarahkan dan mendorong kegairahan kerja para bawahan perlu dipahami faktor – faktor manusia. Untuk mengetahui perilaku manusia peranan psikologi, sosiologi, antropologi dan psikologi sosial dan psikologi manajemen.
Manusia dalam berkelompok mempunyai latar belakang yang heterogen seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, agama, kebudayaan, kepentingan dan lain sebagainya. Tetapi disamping perbedaain ini juga terdapat persamaan, seperti kebutuhan (needs) untuk makan, minum, keamanan, keturunan atau biologis. Persamaan kebutuhan inilah yang membentuk kerja sama dan hidup berkelompok.
Needs (kebutuhan) adalah yang diperlukan oleh setiap orang, sedang wants (keinginan) adalah yang ditentukan oleh cita – cita seseorang.
Para penulis yang mengemukakan tingkah laku manusia, yaitu
Elton Mayo (1880 – 1949).

2.5 cara menyelesaikan pokok-pokok masalah dalam fungsi pergerakan

Elton Mayo meneliti masalah manusia dan pekerjaannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa:
1. Masalah manusia hanya dapat diselesaikan secara manusiawi bila menggunakan data dan alat – alat kemanusian pula.
2. Moral/semangat kerja lebih besar peranannya dan pengaruhnya terhadap produktivitas para pekerja. Moral adalah suatu keadaan yang berhubungan erat sekali dengan kondisi mental seseorang.
3. Perlakuan yang baik dan wajar terhadap para pegawai lebih besar pengaruhnya terhadap produktivitas dari pada tingkat upah yang besar walaupun juga upah merupakan hal yang penting.
Teori yang dikembangkan Elton Mayo ini disebut Thoery Human Science. Pandangan bahwa manusia adalah unsur penunjang mesin harus memberikan ruang pada kenyataan akan pentingnya perasaan dan sikap para pegawai karena itu dorongan efisiensi harus ditupang oleh pemahaman akan faktor – faktor manusiawi dalam kerja.
Douglas Mc Gregor
Douglas Mc Gregor mengemukakkan Teori X dan Teori Y tentang tingkah laku manusia atau karyawan dalam perusahaan. Teori ini mengemukakkan bahwa manusia secara jelas dan tegas dikelompokkan atas manusia penganut Teori X dan Teori Y.
Teori X mengemukakkan bahwa:
1. Rata – rata karyawan itu malas dan tidak suka bekerja.
2. Umumnya karyawan itu tidak berambisi dan menghindari tanggung jawab.
3. Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah dan diawasi
4. Karyawan labih suka mementingkan diri sendiri dan kurang mempedulikan sasaran perusahaan.
Teori Y mengemukakan bahwa:
1. Rata – rata karyawan rajin dan sesungguhnya bekerja sama wajarnya dengan bermain – main dan beristirahat. Perkerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan, banyak orang tidak betah dan merasa kesal dan tidak bekerja.
2. Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi untuk maju.
3. Karyawan selalu berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan mengembangkan dirinya untuk mencapai sasaran optimal.
Douglas Mc Gregor berpendapat, suatu perusahaan baru efektif jika pengendalian dan pengarahan diganti dengan integrasi, kerja sama dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Tegasnya dedikasi, loyalitas dan partisipasi akan lebih menjamin tercapainya sasaran perusahaan. Dengan demikian manajemen partisipasi harus dikembangkan. Tipe kepemimpinan penganut Teori Y ini adalah demokrasi, sedang falsafah kepemimpinanya “pemimpinan adalah untuk bawahannya”.
D. Yung
D. Yung membedakan manusia menjadi 3 golongan menurut arah perhatiannya:
Tipe Extraverce jika perhatian terutama ditujukan kesekelilingnya. Orang tipe ini disebut extravert yang ciri – ciri berhati terbuka, gembira ramah tamah, luas dalam pergaulan dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya.
Tipe Introverse, jika perhatiannya terutama diarahkan kedalam dirinya sendiri. Orang introverse ciri – cirinya adalah egoistis, pendiam, senang menyendiri, kurang bisa bergaul dan selalu mengutamakan kepentingan pribadinya dari pada kepentingan umum.
Tipe ambiverse, adalah orang – orang yang tingkah lakunya berada diantara introverse dan extroverse.
Robert Owen dan Andrew Uro
Robert Owen dan Andrew Uro , mengemukakan bahwa jika manusia diperlakukan lebih manusiawi maka semua potensinya akan dikerahkannya untuk mencapai sasaran perusahaan. Tingkah laku manusia terbentuk dari 2 sisi, yaitu: pertama keturunan dari ayah atau ibu (heredity), dan kedua, lingkungan pergaulan (environment)nya. Karena itu untuk mengetahui tingkah laku (pribadi) seseorang tidak cukup hanya mengenal individunya saja, tetapi harus mengetahui pula kehidupan orang tua dan nenek moyangnya. Dalam diri seseorang terdapat 4 fungsi psikis, yaitu
Pikiran
Jika fungsi pikiran yang paling dominan dalam diri seseorang maka ia berusaha memahami lingkungannya dengan jalan pengetahuan, menghubungkan berbagai pengertian dan mengambil keputusan yang logis. Sedang tolak ukur penilainnya didasarkan benar atau salah (right or wrong).
Perasaan
Jika fungsi perasaan yang paling dominan dalam diri seseorang maka ia memahami lingkungannya dengan ukuran penilaian senang atau tidak senang (like or dislike). Jadi orangnya suka menjilat atau dijilat.
Intuisi
Jika fungsi intuisi yang paling dominan dalam diri seseorang maka ia memahami lingkungannya lebih banyak melalui penglihatan batinnya, tidak melihat secara mendetail, tetapi melihat makna secara keseluruhan.
Pengindraan
Jika pengindraan psikis yang paling dominan dalam diri seseorang maka ia menilai hal – hal dalam lingkungannya sebagaimana adanya tanpa ukuran penilaian apapun. Diantara keempat fungsi psikis ini, fungsi pikiran dan perasaan yang paling utama, sedang fungsi intuisi dan pengindraan hanya membantu saja.
Clare W. Graves
Galre W. Graves, Oktober 1966 membedakan 7 pola tingkah laku manusia yang disusunnya dengan urutan istimewa.
1. Tipe – tipe Tingkah Laku
1) Tipe Autistik
Hidupnya seperti tumbuh – tumbuhan. Ia kurang atau bahkan tidak punya daya juang dan dalam arti umum tidak dapat dikaryakan.
2) Tipe Animistik
Ia sadar akan lingkungannya, tetapi kurang memahaminya. Motifnya yang paling dominan adalah mempertahankan kelangsungan hidunpnya, tetapi ia dikuasai hal – hal klenik dan praktek yang aneh – aneh.
3) Tipe Kejutan
Ia sadar dan takut akan adanya daya – daya yang bertentangan dalam dirinya sendiri dan dunia yang hanya sebagian saja dipahaminya. Motif utamanya adalah keamanan dan perlindungan “Status Quo”. Peraturan – peraturan yang kaku prosedur dan lain – lainnya memberika dukungan padanya. Ia hanya akan memanfaatkan peluang jika tidak ada resiko yang mengancam keamanan dirinya.
4) Tipe Agresif dan Gila Kuasa
Ia menentang tradisi dan tata tertib yang telah mapan. Ia lebih suka mengatur diri sendiri. Motifnya yang paling dominan adalah kekuasaan dan prestise. Motif keamanan tak diacuhkannya. Orang macam ini sulit diatur dan tekanan yang meningkat serta aturan yang ketat hanya akan menjadikannya lebih buruk lagi. Misalnya dalam delegasi wewenang yang disertai terlalu banyak beban kerja.
5) Tipe Sosio Sentris
Orangnya rindu akan suasana kerja yang menyenangkan. Ia mendahulukan masalah – masalah sosial daripada masalah – masalah pribadi atau material. Orangnya suka akan kegiatan kelompok, ia adalah orang yang suka bekerja dalam satu tim. Motif dominannya adalah penerimaan kelompok, bukan dalam arti keamanan, melainkan dalam arti aktif.
6) Tipe Agresif Individualistis
Orangnya percaya akan dirinya sendiri, bertanggung jawab, berkiblat pada tujuan, bukan pada sarana. Ia benci akan perincian metode dan ia tidak menyukai tugas yang dipaksakan. Motif dominannya adalah prestasi. Orang ini berkemampuan untuk menjadi manajer puncak.
7) Tipe Individualistis Suka Damai
Orangnya berorientasi pada tujuan dan berharap dapat ikut serta dalam menentukan targetnya sendiri. Motif dominannya adalah prestasi dan harga diri, ia acuh tak acuh pada penghargaan dari orang lain. Ia cenderung mengendalikan diri sendiri dan bersifat teoritis.
DR. Toshitaka Nomi
Mengemukakan bahwa golongan darah dapat mengungkapkan tingkah laku (watak) manusia.
1) Golongan darah A bisa dipercaya
Sifat diri yang paling menonjol pada manusia yang memiliki golongan darah A ialah dapat dipercaya, bertabiat sangat teliti dan penuh tanggung jawab mental terutama pada waktu melaksanakan pekerjaannya.
2) Golongan darah B lemah lembut
Manusia bergolongan darah B mempunyai sifat lemah lembut dan sangat perasa. Mereka tergolong kelompok manusia yang tenang dan kalem.
3) Golongan darah AB emosional.
Manusia yang bergolongan darah AB mempunyai sifat yang emosional, sifat wataknya ragu – ragu dan pendiriannya dipengaruhi oleh situasi.
4) Golongan darah O berbakat pemimpin.
Manusia bergolongan darah O berbakat pemimpin, energi rohaniah, gairah kerjanya tinggi tanpa kenal istirahat dan prestasi kerjanya optimal. Manusia bergolongan darah O ini sangat kesal melihat karyawan yang bekerja malas – malasan dan dia menganggap bahwa semua manusia harus bekerja dengan rajin serta efektif, dia lupa bahwa kemampuan manusia itu tidak sama.
2. Hubungan Manusiawi
Hubungan manusiawi (human relations), adalah hubungan antara orang – orang yang dilakukan dalam suatu organisasi. Jadi bukan dalam arti kekeluargaan.
Hubungan manusiawi tecipta serta didorong oleh kebutuhan dan kepentingan yang sama, misalnya untuk memperoleh pendapatan , keamanan, kekuatan dan sebagainya.
Dalam suatu perusahaan selalu ada seseorang yang menjadi karyawan dan suatu perusahaan yang menerimanya menjadi karyawan. Hal ini didasarkan atas sifat the nature of man and the nature of organization.
The nature of man,artinya seseorang berpendapat bahwa kebutuhan dan kepentingannya akan lebih mudah diperolehnya jika ia menjadi karyawan/anggota suatu perusahaan.
The nature of organization, artinya perusahaan menerima seseorang menjadi karyawan, jika orang itu akan memberikan keuntungan, atau nilai prestasinya lebih besar daripada kempensasinya.
Jadi hubungan manusiawi atau sosial ini tercipta dan terbina dengan baik, jika dilakukan secara manusiawi, saling membutuhkan, saling menguntungkan, hormat – hormati, cinta – mencintai dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.
3. Komunikasi
Komunikasi merupakan hal yang terpenting dalam manajemen, karena proses manajemen baru terlaksana, jika komunikasi dilakukan.
Henry Clay Lindgren mengatakan bahwa effective leadership means effective communication atau kepemimpinan yang efektif berarti komunikasi yang eketif.
Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Komunikasi adalah suatu alat untuk menyampaikan perintah, laporan, berita, ide, pesan atau informasi dari komunikator kepada komunikan agar diantara mereka terdapat interaksi.
Harold Koontz dan Cyril O’Donnel
Komunikasi digambarkan sebagai pemindahan informasi dari seseorang ke orang lain terlepas dari percaya atau tidak. Tetapi informasi yang ditransfer tentulah harus dipahami si penerima.
Tujuan Komunikasi, yaitu untuk memberikan perintah, laporan, informasi, ide, saran, dan menjalin hubungan – hubungan dari seorang komunikator kepada komunikan atau penerimanya.

Proses Komunikasi
Unsur – unsur komunikasi
1. Komunikator (pemberi = giver) adalah orang yang menyampaikan pesan komunikasi itu.
2. Pesan, yaitu informasi, perintah, laporan, berita dan lain – lainnya yang disampaikan itu.
3. Saluran (simbolis = channel) yaitu orang yang menerima pesan komunikasi tersebut.
4. Komunikan (penerima = receiver) yaitu orang yang menerima komunikasi tersebut.
5. Feedback (action), adalah reaksi yang ditimbulkan oleh komunikasi itu.
Lambang – lambang Komunikasi
Lambang (simbol = channel) adalah alat yang dipergunakan komunikator untuk menyampaikan pesan yang dikomunikasikan kepada komunikan, yaitu:
a. Suara yaitu pesan komunikasi disampaikan dengan suara oleh komunikator.
b. Tulisan (gambar), yaitu pesan komunikasi disampaikan dengan tulisan atau gambar – gambar oleh komunikator kepada komunikannya.
c. Gerak – gerik, yaitu pesan komunikasi yang disampaikan dengan gerak – gerik oleh komunikator kepada komunikannya, misalnya dengan raut muka, telunjuk, kedipan mata.
d. Warna yaitu pesan komunikasi disampaikan dengan warna oleh komunikator kepada komunikan, misalnya lampu petunjuk jalan pada perempatan, merah berhenti, kuning siap untuk jalan dan hijau boleh jalan, bendera putih tanda menyerah.
Fungsi – fungsi Komunikasi
1. Instructive, artinya komunikasi dalam hal ini berfungsi untuk memberikan perintah dari atasan kepada bawahannya.
2. Evaluative, artinya komunikasi berfungsi untuk menyampaikan laporan dari bawahan kepada atasannya.
3. Informative, adalah komunikasi dalam hal ini berfungsi untuk menyampaikan informasi, berita dan pesan – pesan.
4. Influencing, artinya komunikasi dalam hal ini berfungsi untuk memberikan saran – saran , nasihat – nasihat dari seseorang kepada orang lain.
Ruang Lingkup Komunikasi
1. Public communication (komunikasi massa) adalah komunikasi dalam arti luas, artinya pesan komunikasi itu ditujukan kepada masyarakat luas, baik yang dikenal maupun tidak.
2. Business communication adalah komunikasi dalam arti sempit, artinya pesan komunikasi itu dilakukan dalam suatu perusahaan atau organisasi.
Tipe – tipe Komunikasi
1. Komunikasi formal (formal communication) adalah komunikasi dalam organisasi formal, pesannya instructive dan evaluative yang dilakukan mengikuti rangkaian hierarki formal organisasi serta hubungannya dengan tugas – tugas dan tanggung jawab.
2. Komunikasi informal (informal communication = the grapevine = pohon anggur) adalah komunikasi dalam organisasi informal atau formal. Pesan komunikasinya berfungsi informative dan evaluative, jadi tidak berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab.
Metode Komunikasi
1. Komunikasi langsung
2. Komunikasi tidak langsung
3. Komunikasi searah
4. Komunikasi dua arah
Hambatan – hambatan Komunikasi
1. Hambatan semantis, yaitu hambatan karena bahasa, kata – kata atau kalimat – kalimat yang dipergunakan penafsirannya banyak
2. Hambatan teknis, adalah hambatan yang disebabkan oleh alat – alat teknis yang dipergunakan untuk berkomunikasi yang baik.
3. Hambatan boilogis, adalah hambatan yang ditimbulkan oleh kurang baiknya panca indra komunikator/komunikan, misalnya gagu/tuli.
4. Hambatan psikologis, adalah hambatan kejiwaan yang disebabkan perbedaan status dan keadaan.
5. Hambatan kemampuan, adalah hambatan yang disebabkan komunikan kurang mampu menangkap dan menafsirkan pesan komuniasi, sehingga dipersepsi serta dilakukan salah.
Komunikasi dan Proses Manajemen
Manajer dalam proses manajemen selalu memperalat komunikasi untuk memerintah, mengkoordinasi, dan menerima laporan. Manajer yang efektif, jika komunikasinya berjalan efektif. Jika komunikasi efektif maka pelaksanaan tugas – tugas akan benar dan pemborosan dapat dikurangi
Jadi peranan komunikasi dalam proses manajemen sangat menentukan berhasil atau tidaknya seorang manajer mencapai tujuan perusahaan.
4. Kepemimpinan
Menurut Ralp Stogdill dalam bukunya Handbook of Leadership (1974). Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi kelompok yang terorganisir dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam buku Fundamental Of Management, James H. Donelly (1975) mengemukakan: Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi, kegiatan yang merupakan fungsi dari pada karakter pribadi pemimpin dan pengikut serta sifat – sifat situasi yang spesifik.
Jadi, kepemimpinan berarti kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain melalui suatu proses dan aktivitas agar ia mau berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud dan tujuan.
Aspek Kepemimpinan
1. Kekunggulan seseorang dalam lapangan kepemimpinan, yang menonjol dalam kualitas fisik, keahlian, teknologi, kecerdasan, ingatan dan daya proyeksi, akan menimbulkan kekaguman dan akan memimpin bawahannya.
2. Keunggulan seseorang dalam kesetiaan terhadap tujuan, kesanggupan menghadapi tantangan dan keberanian, perasaan, tanggung jawab.
Fungsi – fungsi Kepemimpinan
1. Pengambilan keputusan dan merealisasi keputusan itu.
2. Pendelegasian wewenang dan pembagian kerja kepada para bawahan.
3. Meningkatkan daya guna dan hasil guna semua unsur manajemen (6M)
4. Memotivasi bawahan, supaya bekerja efektif dan bersemangat.
5. Pemrakarsa, penggiatan, dan pengendalian rencana.
6. Mengkoordinasi dan mengintegrasi kegiatan – kegiatan bawahan.
7. Mengembangkan imajinasi, kreativitas dan loyalitas bawahan.
8. Penilaian prestasi dan pemberian teguran atau penghargaan kepada bawahan.
9. Pengembangan bawahan melaluli pendidikan dan pelatihan.
10. Melaksanakan pengawasan melekat (waskat) dan tindakan – tindakan perbaikan jika perlu.
Unsur – unsur Kepemimpinan
1. Pemimpin (leader = head) adalah orang yang memimpin.
2. Bawahan (pengikut) adalah orang – orang yang dipimpin.
3. Organisasi adalah alat dan wadah untuk melakukan kepemimpinan.
4. Tujuan (objective) adalah sasaran yang ingin dicapai.
5. Lingkungan adalah internal dan eksternal perusahaan.
Syarat – syarat Umum Pemimpin yang Efektif
Ordway Tead dalam bukunya The Art Of Leadership, mengemukakan sepuluh syarat yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu
1. Memiliki energi fisik dan ketegapan tubuh.
2. Perhatian pada tujuan dan pemberian petunjuk.
3. Semangat yang bergelora.
4. Keramahan dan kasih sayang.
5. Kejujuran.
6. Keahlian teknis.
7. Ketegasan.
8. Kecerdasan.
9. Keahlian mengajar.
10. Kuat Iman.
Macam – macam Wewenang Pemimpin
1. Formal authority (wewenang resmi) adalah wewenang yang sah dan legal yang dimiliki oleh seorang pemimpin, karena kedudukannya dalam suatu perusahaan. Dalam wewenang resmi ini kepemimpinan dapat memerintah, memotivasi dan mempengaruhi tingkah laku bawahannya sesuai dengan keinginannya, jika perlu memberikan hukuman.
Wewenang kepemipinan ini berasal dari:
a. Top down authority, adalah wewenang yang berasal dari kekuasaan pemimpin puncak turun ke pimpinan yang lebih rendah.
b. Bottom-up authority, adalah wewenang yang berdasarkan diri pada teori penerimaan (acceptance theory).
2. Personality aouthority (kewibawaan) adalah wewenang karena wibawa yang dimiliki seseorang pemimpin.
Hal – hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin adalah:
1. Tradisi (warisan), artinya seseorang menjadi pemimpin karena warisan (keturunan), misalnya raja atau ratu Inggris dan Belanda.
2. Kekuatan pribadi, artinya sesorang menjadi pemimpin, karena kekuatan pribadinya, baik karena kecakapannya maupun kekuatan fisiknya.
3. Pengangkatan atasan, artinya sesorang menjadi pemimpin karena diangkat oleh pihak atasannya.
4. Pemilihan, artinya sesorang menjadi pemimpin berdasarkan hasil pemilihan anggota.
Teori – Teori Kepemimpinan
1. Teori Sifat (The Traitist Theory of Leadership)
Teori ini mengemukakan bahwa untuk menentukan sifat – sifat kepemimpinan yang baik, perlu diteliti secara induktif , mengamati mereka yang diakui sebagai pemimpin yang berhasil menyebutkan sifat – sifat (traits) yang dimilikinya masing – masing.
Para ahli manajemen yang menganut teori sifat ini antara lain
E.E Gizeli dan Stigdil
a. Kecerdasan (intelligence)
b. Kemapuan mengendalikan (supervisory ability)
c. Inisiatif (Iniciative)
d. Ketenangan diri (self assurance)
e. Kepribadian (individuality)
Thomas W. Harrell
a. Kemauan yang keras (strong will)
b. Tingkah laku yang ditentukan sifat lahirian (extroversion)
c. Keinginan kekuasaan (poer needs)
d. Keinginan prestasi (achievement needs)
Keith Davis
a. Kecakapan (intellegence)
b. Kematangan dan luwes pergaulan (social maturity and breadth)
c. Motivasi dan rangsang prestasi (inner motivation and achievment drives)
d. Sikap hubungan manusiawi (human relation attitude)
George R. Terry
a. Energi, mempunyai kekuatan mental dan fisik.
b. Stabilitas emosi, tidak cepat marah dan tenang menghadapi masalah.
c. Human relationship, mempunyai pengetahuan tentang hubungan manusiawi dan luwes dalam pergaulan.
d. Personal motivation, keinginan menjadi pemimpin harus besar dan dapat memotivasi diri sendiri.
e. Communication skills, mempunyai kecakapan untuk berkomunikasi secara efektif.
f. Teaching skills, mempunyai kecakapan untuk pengarahan, mengajarkan, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan.
g. Socail skills, mempunyai keahlian di bidang sosial, supaya terjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahan.
h. Technical competent, mencapai kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasi , medelegasikan wewenang, mengambil keputusan, mampu menyusun konsep dan mengkoordinasi.
Kelemahan teori sifat ini adalah begitu banyaknya sifat pemimpin yang harus diperhatikan dan juga ada sifat pemimpin yang suatu saat cukup berhasil dalam kepemimpinannya, tetapi pada keadaan lain belum tentu berhasil.
Jadi untuk menentukan seorang pemimpin harus diperhatikan beberapa faktor yaitu pemimpin, pengikut, tujuan dan situasi lingkungannya.
2. Teori Kepemimpinan Situasional
Dalam teori ini, kepemimpinan dipengaruhi oleh keadaan pemimpin , pengikut, organisasi dan lingkungan sosial (ekonomi, kenudayaan, agama, moral dan politik). Kepemimpinan merupakan konsep empat variabel, yaitu pemimpin, bawahan, organisasi dan lingkungan sosial. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam keadaan normal dan dalam keadaan kritis akan berbeda.
Keberhasilan seorang pemimpin juga dipengaruhi oleh situasi artinya ada seorang pemimpin yang berhasil baik dalam keadaan normal, tetapi pemimpin lain hanya akan berhasil jika keadaan krits. Bagi seorang pemimpin sejati keadaan – keadaan darurat justru merupakan kesempatan terbaik untuk mengatasi keadaan yang kritis itu.
Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard
Kepemimpinan situasional didasarkan pada saling pengaruh antara :
a. Sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan.
b. Sejumlah dukungan emosional (perilaku hubungan ) yang pemimpin berikan.
c. Tingkat kesiasiagaan (kematangan) yang para bawahan tunjukkan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi dan sasaran.
Tipe/Gaya Kepemimpinan
Menurut G.R Terry tipe – tipe atau gaya pemimpinan itu ada 6 macam yaitu:
1. Tipe kepemimpinan pribadi (Personal Leadership). Dalam sistem kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi.
2. Tipe kepemimpinan non Pribadi (Non personal Leader – ship). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dijalankan dalam perusahaan itu dilakukan melalui bawahan atau mempergunakan media non pribadi baik rencana – rencana atau perintah pengawasannya.
3. Tipe kepemimpinan Otoriter (Autoritarian Leadership). Pimpinan otoriter biasanya bekerja keras dan sungguh – sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan – peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi – instruksinya harus ditaati.
4. Tipe kepemimpinan Demokratis (Democtratic Leadership). Pimpinan yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama – sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang melaksanakan tujuan bersama.
5. Tipe kepemimpinan Paternalistik (Paternalistic Leadership). Dalam sistem kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pimpinan dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6. Tipe kepemimpinan menurut bakat (Indogenius Leadership). Biasanya timbul dari kelompok – kelompok organisasi informal dimana mungkin mereka terlatih dengan adanya sistem kompetensi sehingga bisa menimbulkan klik – klik dari kelompok – kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul kepemimpinan yang mempunyai kelemahan diantara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya dimana ia ikut berkecimpung. Disini peranan bakat akan menonjol, sebagai akibat bawaan sejak lahir.
5. Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Latin, Mavere yang berarti dorongan atau daya penggerak.
Drs. Malayu S.P Hasibuan
Motivasi adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak keamanan bekerja seseorang. Setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Harold Koontz
Motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan.
Tujuan Pemberiam Motivasi
1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan.
2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan.
5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.
6. Mengefektifkan pengadaan karyawan.
7. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
8. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan.
9. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyaawan.
10. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas – tugasnya.
11. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat – alat dan bahan baku.
Asas – Asas Motivasi
1. Asas mengikutsertakan, artinya mengajak bawahan untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka mengajukan pendapat, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan.
2. Asas komunikasi, menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang ingin dicapai, cara – cara mengerjakannya, dan kendala – kendala yang dihadapi.
3. Asas pengakuan, artinya memberikan penghargaan, pujian dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada bawahan atas prestasi kerja yang dicapainya.
4. Asas wewenang yang didelegasikan, artinya memberikan kewenang dan kepercayaan diri kepada bawahan, bahwa dengan kemampuan dan kreativitasnya ia mampu mengerjakan tugas – tugas itu dengan baik.
5. Asas adil dan layak, artinya alat dan jenis motivasi yang diberikan harus berdasarkan atas “asas keadilan dan kelayakan” terhadap semua karyawan.
6. Asas perhatian timbal – balik, artinya bawahan yang berhasil memcapai tujuan dengan baik maka pimpinan harus bersedia memberikan alat dan jenis motivasi.
Alat – alat Motivasi
1. Material insentif, artinya alat motivasi yang diberikan berupa uang dan atau barang yang mempunyai nilai pasar, jadi memberikan kebutuhan ekonomis.
2. Nonmaterial insentif, artinya alat motivasi yang diberikan berupa barang atau benda yang tidak bernilai, jadi hanya memberikan kepuasan atau kebanggaan rohani saja.
3. Kombinasi material dan nonmaterial insentif, yaitu alat motivasi yangdiberkan berupa material (uang dan barang) dan nonmaterial (medali – piagam), jadi memenuhi kebutuhan ekonomis dan kepuasan atau kebanggaan rohani.
Jenis – jenis motivasi
a. Motivasi positif (insentif positif) manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi positif ini semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada umumnya senang menerima yang baik – baik.
b. Motivasi negatif (insentif negatif), manajer memotivasi bawahannya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik (prestasi rendah). Dengan motivasi negatif ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat, karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
Metode – metode Motivasi
1. Metode langsung (direct motivasi), adalah motivasi (material dan nonmaterial) yang diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasannya. Jadi sifatnya khusus seperti memberikan pujian, penghargaan, bonus, piagam dan sebagainya.
2. Metode tidak langsung (indirect motivation), adalah motivasi yang diberikan hanya merupakan fasilitas – fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja/kelancaran tugas, sehingga para karyawan betah dan semangat melakukan pekerjaan.
Model – model Motivasi
1. Model Tradisional, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan agar gairah kerjanya meningkat dilakukan dengan sistem insentif, yaitu memberikan insentif material kepada karyawan yang berprestasi baik.
2. Model hubungan manusia, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan supaya gairah bekerjanya meningkat, dilakukan dengan mengakui kebutuhan sosial mereka dan membuat mereka merasa berguna serta penting.
3. Model sumber daya manusia, mengemukakan bahwa karyawan dimotivasi oleh banyak faktor, bukan hanya uang atau barang atau keinginan akan kepuasan saja, tetapi juga kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti.
Teori – Teori Motivasi
a. Teori Hirearki Kebutuhan
Teori Maslow atas nama lengkapnya Abraham Maslow seorang ahli psikologi yang mengembangkan teori motivasi, ia menyatakan bahwa kebutuhan akan dapat memotivasi manusia untuk bekerja. Hal ini tergantung pada atau sesuai dengan waktu, keadaan, dan pengalaman manusia yang bersangkutan. Umunya manusia termotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi, dan setiap jenjang kebutuhan apabila terpenuhi, maka akan muncul kebutuhannya yang tingkatannya lebih tinggi dan memerlukan pemuasan. Berdasarkan tingkatan kebutuhan manusia menurut jenjangnya, maka kebutuhan manusia dapat digolongkan ke dalam lima tingkatan sebagai berikut:
1. Kebutuhan psikologis
2. Kebutuhan rasa aman
3. Kebutuhan sosial
4. Kebutuhan penghargaan
5. Kebutuhan perwujudan diri.
Kelima kebutuhan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk piramida sebagai berikut.

Dari gambar piramida tingkatan kebutuhan manusia tersebut, kita dapat melihat dan membaca mulai dari kebutuhan dasar atau kebutuhan utama (Kebutuhan Fisiologis) yaitu jenis kebutuhan manusia yang mau tidak mau harus dipenuhi demi kepentingan kelanjutan hidupnya. Contohnya kebutuhan akan makan, minum, pakaian, perumahan dan kebutuhan biologis lainnya. Apabila semua kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan kedua yang lebih tinggi tingkatannya dari kebutuhan pertama, yaitu kebutuhan rasa aman, seperti kebutuhan akan kesehatan, ketertiban dan kebebasan rasa takut serta ancaman. Apabila jenis kebutuhan kedua ini dapat terpenuhi, maka akan muncul jenis membutuhkan orang lain sebagai mana kodrat manusia sebagai makhluk sosial, centohnya sebagai kebutuhan akan penghargaan. Contohnya kebutuhan ingin dihargai, status prestise, dan kekuasaan. Apabila kebutuhan keempat telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan kelima yang merupakan kebutuhan tertinggi yaitu kebutuhan perwujudan diri, yaitu suatu jenis kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Contohnya seperti kebutuhan untuk mencapai prestasi, merealisasikan potensi dalam kenyataan hasil karya. Proses pemenuhan kebutuhan manusia, tersebut menurut tingkatan yang telah diuraikan satu sama lainnya saling ketergantungan saling menopang. Semua kebutuhan cenderung menjadi bagian kepuasan dalam setiap daerah dan menjadi motivasi utama dalam perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan.
b. Teori Motivasi – Higienis (Dua Faktor)
Faktor Higienis Faktor Motivasi
A. Kebijakan – administrasi A. Prestasi
B. Suver visi B. Pengukuhan hasil kerja
C. Uang, status, rasa aman C. Pekerjaan menarik
D. Hubungan antar manusia D. Tanggung Jawab
E. Kondisi kerja E. Kemajuan
Teori ini dikembangkan oleh Frederick Herzberg. Dari hasil penelitiannya, Herzberg menarik kesimpulan adanya dua macam situasi yang berpengaruh terhadap setiap pelaksanakan pekerjaannya yaitu:

Jadi faktor yang menyebabkan pekerjaan senang atau tidak senang terhadap pekerjaan akan tergantung pada kondisi ektrinsik yaitu pekerjaan yang menghasilkan ketidak puasan dikalangan pekerja jika kondisi tersebut tidak ada. Kondisi intrinsik isi pekerjaan yang apabila ada dalam pekerjaan tersebut akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Jika kondisi tersebut tidak ada, maka tidak akan menimbulkan rasa ketidakpuasan yang berlebihan. Ketidakpuasan itu baru akan diperoleh kalau faktor motivatornya diperhatikan. Jika faktor higienis tidak diperhatikan, maka ketidak puasan akan timbul.
c. Teori X dan teori Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas Mc.Gregor, ia menjelaskan bahwa sikap menager akan mempengaruhi motivasi anggota staffnya, sehingga ia akan berpengaruh pula terhadap produktivitasnya. Ada dua macam pendekatan terhadap manusia kerja, yaitu
1. Sikap dasar yang dilandasi oleh teori X.
2. Sikap dasar yang dilandasi oleh Y potensial.
Teori X cenderung mengadakan – mengadakan pengawasan secara ketat kepada anak buahnya, memuat tugas – tugas yang lebih jelas dan berstruktur, dan banyak melakukan hukuman/ganjaran.
Teori Y , dasar asumsi bahwa manusia pada dasarnya suka bekerja, sebab bekerja adalah kegiatan yang alami seperti halnya bermain.
Perbedaan antara teori X dan teori Y diringkas oleh Hersey dan Blancard dalam bukunya sebagai berikut:
Teori X Teori Y
Kebanyakan orang tidak suka kerja. Bekerja sepeti halnya bermain adalah natural
Kebanyakan orang tidak mempunyai ambisi, tidak mempunyai tanggung jawab dan lebih suka diberi pengarahan. Kontrol terhadap diri sendiri merupakan suatu hal yang esensial dalam mencapai tujuan organisasi.
Kebanyakan orang tidak mempunyai kemampuan dalam memecahkan masalah secara kreatif Kapasitas untuk memecahkan masalah secara kreatif, terdapat pada sebagian orang.
Motivasi terjadi hanya pada tingkatan psikologik dan aman. Motivasi terjadi pada tingkat sosial, kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri selain pada tingkatan yang lebih rendah.
Kebanyakan orang harus di kontrol ketat, dan sering harus dipaksa untuk mencapai tujuan organisasi Kebanyakan orang adalah kreatif dan selfdirected dalam pekerjaannya kalau cara memberikan motivasi tepat.


Daftar Pustaka
Hasibuan,Malayu.Manajemen:Dasar,Fungsi, dan Masalah.Bandung:Bumi Aksara.2006
Siagaan,Sondang.Fungsi-fungsi Manajerial.Jakarta:Bumi Aksara.2004
Alam. Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta:Esis.2007
Ukas,Maman.Manajemen:Prinsip,Konsep,dan Aplikasi.Bandung:Algini.2004
Brantas.Dasar-dasar Manajemen.Bandung:Alfabeta.2009
http://ocw.usu.ac.id/course/download/128 MANAJEMEN/manajemen_textbook_manajemen.pdf

http://adipurnama.blogdetik.com/2011/01/21/penggerakan/

http://www.masbied.com/2010/11/21/penggerakan-sumber-daya-manusia/

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fungsi aktuasi…

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Fungsi aktuasi yaitu untuk menggerakkan dan mengarahkan pelaksanan
program. Aktuasi lebih memusatkan perhatian pada pengelolaan sumber daya
manusia. Oleh karena itu, fungsi aktuasi lebih menekankan pada manajer dalam
mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya (manusia dan yang bukan
manusia) untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.
Fungsi pergerakan dalam suatu organisasi adalah usaha untuk tindakan
dari pimpinan dalam rangka menimbulkan kemauan dan membuat staf mengerti
dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya. Untuk menggerakkan dan mengarahkan sumber daya manusia dalam
organisasi, peranan kepemimpinan (leadership), motivasi staf, kerja sama dan
komunikasi antar staf merupakan hal pokok yang perlu mendapat perhatian para
manajer organisasi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan fungsi penggerakan?
2. Bagaimana tujuan dari fungsi penggerakan?
3. Apakah prinsip dari fungsi penggerakan dalam manajemen?
4. Bagaimana masalah pokok yang dipelajari dalam fungsi penggerakan?
5. Bagaimana cara meyelesaikan masalah pokok dalam fungsi penggerakan?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1. Mengetahui pengertian dari fungsi penggerakan
2. Mengetahui tujuan dari fungsi penggerakan tersendiri
3. Mengetahui prinsip dari fungsi penggerakan dalam manajemen
4. Mengetahui masalah-masalah yang dipelajari dalam fungsi penggerakan
5.Mengetahui cara-cara untuk menyelesaikan masalah dalam fungsi penggerakan

BAB III
SIMPULAN
Fungsi penggerakan dalam manajemen sangatlah penting dalam sebuah perusahaan, karena untuk mencapai tujuan perusahaan diperlukan lingkungan kerja yang kondusif, agar para karyawanya bisa melakukan pekerjaanya secara maksimal. Penggerakan dapat dilakukan dengan memberikan motivasi dan bimbingan dari pemimpin kepada karyawannya.
Tujuan fungsi aktuasi atau penggerakan dimana pemimpin harus bisa menggerakan karyawannya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Jika dalam suatu perusahaan fungsi ini tidak berjalan dengan baik maka tujuan perusahaan tidak akan tercapai atau bahkan bisa jadi perusahaan itu akan hancur, karena dalam fungsi penggerakkan ini semua komponen yang ada dalam perusahaan harus bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan, sehingga perusahaan penggerakkan ini sangat penting dalam suatu perusahaan.

MASALAH EKONOMI DAN SISTEM PENGATURAN EKONOMI Masalah ekonomi…

MASALAH EKONOMI DAN SISTEM PENGATURAN EKONOMI

Masalah ekonomi adalah masalah yang lekat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari jual beli, tawar menawar, atau ekspor impor. Namun begitu, tidak semua kalangan bisa mengidentifikasi masalah ekonomi dengan mudah. Mereka umumnya sulit menuliskan, melukiskan, dan mengatakan apa yang sebetulnya telah dicerna pikiran. Berikut ini 10 contoh masalah ekonomi yang paling populer.
1. Kemiskinan
Ya, masalah ini selalu menghantui dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya. Masalah kemiskinan tidak akan pernah tuntas dibahas karena akan terus menerus muncul. Dalam banyak buku literatur ekonomi bahkan disebut tujuan penting ilmu ekonomi ialah menghilangakan kemiskinan.
2. Kesejahteraan
Nah, ini lawan kata dari kemiskinan. Masalah ini tergolong populer dalam ekonomi karena pada hakikatnya manusia selalu ingin kaya, makmur, dan banyak uang. Semua itu tertuju pada satu kata : kesejahteraan.
3. Lapangan Pekerjaan
Masalah ini akan selalu krusial diselesaikan karena membengkaknya peminat kerja sedangkan lapangan pekerjaan kian menyempit. Eksesnya, postur ekonomi Indonesia didominasi 80% oleh sektor informal. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang kaki lima, usaha kecil menengah, dst.
4. Harga
Setiap perayaan hari besar keagamaan masalah ekonomi yang satu ini akan selalu muncul ke permukaan. Apalagi kalau menyangkut sembilan bahan pokok (sembako). Masyarakat sensitif sekali dengan masalah harga, apalagi ibu rumah tangga yang suka ngedumel kalau harga-harga sembako membumbung tinggi.
5. ProfitIlmu ekonomi pasti selalu membahas masalah yang satu ini. Bagaimana kita mampu menaikkan laba dengan sekecil kecilnyamodal. Itu adalah prinsip utama ekonomi.
6. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi pasti akan selalu beragam tiap negara. Sebut saja kapitalisme, sosialisme, mix (campuran), dsb. Namun, sekarang ini dunia disebut sebut memasuki fase non ideologis, dimana corak sistem ekonomi tersebut melebur menjadi satu.
7. Inflasi
Ya, bagi yang bergelut dengan lingkup makro akan terus berkutat dengan masalah yang satu ini. Secara sederhana inflasi bisa diartikan sebagai situasi dimana harga terus menerus mengalami kenaikan.
8. Pertumbuhan Ekonomi
Dari kacamata makro pertumbuhan ekonomu suatu negara mencerminkan menggeliatnya atau menurunnya situasi ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi ini bisa dipandang dari aspek produk domestik bruto (PDB), total ekspor impor, dst.
9. Hutang
Berapa banyak sebuah negara memiliki utang? Bahkan ilmu ekonomikontemporer mengenal istilah debt trap (perangkap hutang). Sebuah analisis masalah untuk mengetahui apakah negara pengutang tersebut telah terjerat ke dalam perangkap hutang.
10. Ekonomi Politik
Era sekarang ini ilmu ekonomi tidak bisa berdiri sendiri. Masalah ekonomi tidak bisa diselesaikan dengan memakai pandangan tunggal. Sebab itu politik terintegrasi untuk melihat permasalahan secara lebih luas dan dalam.

Permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia bukanlah permasalahan ekonomi makro, melainkan masalah ekonomi mikro. Yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah para insinyur bukan ahli ekonomi. Hal tersebut disampaikan Fauzi Ichsan, Vice President&Economist Standard Chartered. “Tantangan yang ada adalah dalam bidang ekonomi mikro,”ucapnya dia di Jakarta, Rabu (14/10) malam.
Permasalahan tersebut, lanjutnya antara lain masalah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan yang menjadi gerbang masuknya devisa asing. Selain itu, kata Fauzi, belum meratanya pembangunan pembangkit tenaga listrik di Indonesia juga menjadi salah satu masalah ekonomi Indonesia yang perlu diperhatikan. Pasalnya listrik merupakan motor penggerak roda perekonomian.”Semua itu bisa diatasi oleh para ahli di bidang proyek dan pembangunan,” kata dia.
Masalah mikro lainnya, lanjut Fauzi adalah masalah pembebasan lahan yang selama ini sering menjadi permasalahan besar antara pengembang dan warga. Belum transparannya penggunaan retribusi pajak juga menjadi salah satu masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia. Menurut Fauzi, permasalahan pembebasan lahan dan retribusi pajak hanya dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah, bukan para menteri yang duduk di pemerintahan.
Fauzi mengatakan, kesemua masalah tersebut harus segera diselesaikan. Para investor terutama investor asing baru akan menanamkan modalnya jika mendapat kejelasan dari sisi ekonomi. “Indonesia ini sangat potensial untuk investasi, tapi investor mana yang bersedia menanamkan modalnya jika sarana dan prasarana belum jelas,” tegas Fauzi.

SISTEM EKONOMI DAN PERSOALANNYA
1.Sistem Ekonomi
Setiap negara memiliki sistem ekonomi. Pilihan terhadap sistemekonomi yang dianut oleh suatu negara tergantung padakesepakatan nasional negara tersebut.
Biasanya, kesepakatan nasional ini berdasarkan undang-undangdasar yang dimiliki. Di samping itu, undang-undang dasar, falsafahdan ideologi negara juga sangat mempengaruhi sistem ekonomisuatu negara. Sistem ekonomi adalah strategi suatu negaramengatur kehidupan ekonominya dalam rangka mencapaikemakmuran.
2. Tiga persoalan pokok Ekonomi.
Tiga persoalan ekonomi tersebut diringkas ke dalam tiga kata tanya
dlam bahasa inggris:
What(Apa ), How (Bagaimana), dan For Whom (Untuk Siapa)
a.Jenis dan Jumlah barang serta Jasa yang harus diproduksi(W ha t).
What adalah pemilihan jumlah serta jenis barang dan jasa yangharus dihasilkan. What menunjukkan pesoalan yang dihadapioleh setiap sistem ekonomi yang terkait dengan pertanyaan:Jenis barang apakah yang harus diproduksi dan berapa jumlahnya?
b.Cara Sistem Ekonomi menghasilkan Barang dana Jasa(How).
How adalah pemilihan cara menghasilkan barang dan jasa. Howmenunjukkan persoalan yang dihadapi oleh sistem perekonomianyang terkait dengan pertanyaan: Bagaimana menghasilkanbarang dan jasa. Untuk mencapai kemakmuran. Artinya, setiapsistem ekonomi harus dapat menjawab persoalan cara yangditempuh oleh suatu negara untuk menghasilkanbarang danjasa.
c.Cara Distribusi Barang dan Jasa (For Whom).
For Whom adalah pemilihan kelompok masyarakat yang harusmenikmati barang dan jasa yang dihasilkan. For Whommenunjukkan persoalan yang dihadapi oleh setiap sistemekonomi yang berkaitan denagn pertanyaan untuk siapasebenarnya barang dan jasa diproduksikan? Artinya, setiap

sistem ekonomi harus dapat menjawab persoalan mengenaikelompok masyarakat mana yang harus menikmati barang ataujasa yang dihasilkan oleh perekonomian suatu negara. Jadisebenarnya persoalan for whom juga berkaitan dengan caradistribusi barang dan jasa yang dihasilkan negara.
Setelah mengikuti uraian tentang persoalan pokok yangdihadapi oleh setiap sistem ekonomi, tiba saatnya kitamendefinisikan sistem ekonomi. Sistem ekonomi dapat didefinisikansebagai suatu strategi atau cara suatu bangsa atau negaramengatur tata kehidupan ekonominya dalam rangka mencapaikemakmuran masyarakatnya.
1. Tiga Sistem Ekonomi Utama
Sistem ekonomi merupakan aturan-aturan yangdigunakan dalamkehidupan perekonomian. Kita dapat membedakannya ke dalamtiga macam sistem yang lazim dijalankan oleh suatu negara, yaitusistem ekonomi liberal (pasar bebas), perencanaan sentral, dancampuran.
a.Sistem Ekonomi Pasar Bebas
Sistem ekonomi pasar bebas adalah pengaturan kehidupan
ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar.
b.Sistem Ekonomi Perencanaan Sentral
Sistem ekonomi perencanaan sentral adalah pengaturan
kehidupan ekonomi dikelola langsung oleh negara.
c.Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran adalah pengaturan kehidupan
ekonomi dikelola bersama oleh swasta dan pemerintah.

A Pengertian Manajemen Istilah manajemen terjemahannya dalam bahasa…

A. Pengertian Manajemen

Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu :
1. Manajemen sebagai suatu proses,
2. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
3. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
Menurut Hilman
Manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.

Menurut G.R. Terry
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.

Menurut Mary Parker Follet
Manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

Menurut James A.F.Stoner,
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Federick Winslow Taylor
Manajemen yaitu Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan, analisis, pengukuran, percobaan dan pembuktian.

Fungsi pundamental ketiga dari fungsi manajerial adalah menggerakan orang untuk melaksanakan aktifitas organisasi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Menggerakan jelas membutuhkan adanya kematangan pribadi dan pemahaman terhadap karakter manusia yang memiliki kecenderungan berbeda dan dinamis, sehingga membutuhkan adanya sinkronisasi. Sehingga bisa dikatakan fungsi actuating jauh lebih rumit oleh karena harus berhadapan langsung sehingga fungsi leadershif begitu kentara sekali dibutuhkan sekalipun semuanya melalui proses planning dan pengorganisasian terlebih dulu.
Premis yang begitu fenomenal diungkapkan Doghlas McGregor bahwa seorang karyawan selalu diasumsikan negatif dan positif :
Teori X yang menganggap
 Kebanyakan karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan bekerja sesedikit mungkin dan mereka umumnya menentang perubahan,
 Kebanyakan karyawan harus dibujuk.dipersuasi, diberikan penghargaan, diuhkum dan diawasi untuk mengubah kelakuan mereka agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi.
 Kebanyakan karyawan ingin diberikan pengarahan oleh seorang menejer formal dan dimana ada kesempatan mereka berusaha untuk menghindari tanggungjawab.
Teori Y menyatakan :
 Kebanyakan karyawan memiliki kapasitas untuk menerima tanggungjawab dan potensi untuk pengembangan tetapi manajemen melalui tindakan-tindakannya harus membuat mereka sadar tentang sifat-sifat tersebut.
 Kebanyakan karyawan ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial, kebutuhan akan pengahrgaan dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri sendiri.

MOTIVASI

Motivasi sebagai “proses psikologikal yang yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya dan terjadinya persistensi kegiatan sukarela yang diarahkan kearah tujuan tertentu” (Mitchell, 1982:81)
Motivasi sebagai “kesediaan untuk melaksanakan upaya tinggi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang dikondisi oleh kemampuan upaya demikian untuk memenuhi kebutuhan individual tertentu” (Robbins et.al, 1999:50)
Motivasi adalah “hasil proses-proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu yang menimbulkan sikap entusias dan persistensi untuk mengikuti arah tindakan tindakan tertentu” (Gray, 1984:69)

TEORI MOTIVASI
Menurut Landy & Becker (1987) teori motivasi dikategorikan dalam 5 macam yaitu : teori kebutuhan (need theory), teori keadilan (equity theory), teori ekpektansi (expectancy theory) dan teori penetapan tujuan (goal-setting theory)
A. Teori kebutuhan
 •Teori hirarkhi kebutuhan Abraham Maslow yang mengungkapkan Motivasi manusia berhubungan dengan 5 macam kebutuhan yang berhirarkhi yaitu :
1. .Kebutuhan psikologis
2. Kebutuhan akan keamanan
3. Kebutuhan akan apeksi
4. Kebutuhan akan pandangan masyarakat
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri sendiri
 Teori Erg dari Clayton P. Alderifer (1972) yaitu terkenal dengan teori (ERG yaitu Existence needs=E,Relatedness needs = R dan Growth needs = G)
 Teori kebutuhan mencapai prestasi dan McClelland (1940) (motivasi berbeda-beda sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi
 Teori Higiene motivator dari Frederick Herzberg (1959) yang berpendapat bahwa motivasi merupakan dampak langsung dari kepuasan kerja dimana didalamnya ada motivator kerja dan ada faktor higiene dalam bekerja.
B. Teori keadilan (Kreitner et.al., 1989)
yang berpendapat orang-orang berupaya mendapatkan kelayakan dan keadilan dalam pertukaran-pertukaran sosial atau hubngan memberi dan menerima. Tendensi keadilan dan ketidakadilan :
1. Seorang individu akan berupaya untuk memaksimalisasi jumlah hasil positif yang diterima olehnya.
2. Orang-orang menolak untuk memperbesar masukan-masukan apabila hal tersebut memerlukan upaya atau biaya besar.
3. Orang menolak perubahan behavioral atau kognitif dalam masukan-masukan yang penting bagi konsep diri mereka atau harga diri mereka.
4. Daripada mengubah kognisi tentang diri sendiri seorang individu cenderung mengubah kognisi tentang perbandingan mengenai masukan dan hasil pihak lain.
5. Meninggalkan lapangan ahanya akan dilakukan apabila ketidak adilan hebat, tidak dapat diatas dengan metode lain.
C. Teori ekpektansi
Orang-orang termotivasi untuk berprilaku dengan cara-cara menimbulkan kombinasi-kombinasi hasil-hasil yang diekpektansikan yang didalamnya ada prinsip hedonisme.
 •Teori ekpektansi Victor Vroom (1964) :
kekuatan motivasi tergantung pada ekpektansi (keyakinan sendiri untuk melakukan sesuatu) sesorang dengan konsep pokok ekpektansi (apakah kiranya saya dapat mencapai tingkat kinerja tugas yang diinginkan), instrumentalis (hasil kerja apakah akan saya peroleh sebagai hasil kinerja saja) danvalensi (bagaimankah penilaian saya tentag hasil-hasil kerja) dengan membuat persamaan bahwa motivasi merupakan hasil dari ekpektansi kali instrumentalitas kali valensi.
Teori ekpektansi memprediksi bahwa motivasi untuk bekerja keras untuk kenaikan upah akan rendah apabila :
1. Ekpektansi rendah-seseorang merasa bahwa ia tidak mampu mencapai tingkat kenerja yang diperlukan.
2. Instrumentalis rendah-orang yang bersangkutan tidak yakin bahwa sutau tingkat kinerja tugas akan menyebabkan kenaikan dalam imbalan
3. Valensi rendah-orang yang bersangkutan kurang menghargai kenaikan dalam imbalan
4. Setiap kombinasi dari ketiga macam kemungkinan, mungkin terjadi.
D. Teori pencapaian tujuan (Edwin A.Locke)
Teori ini diaplikasikan dalam teknik manajemen berdasarkan sasaran (Management by Objective) dan Locke berpendapat “kinerja cenderung meningkat sewaktu tujuan menjadi semakin sulit dicapai tetapi hal tersebut akan berlangsung hingga titik tertentu, spesifikasi tujuan secara menyeluruh yang disertai kesulitan-kesulitan ternyata sangat kuat berkaitan dengan kinerja tugas”. dimana penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional sebagai berikut :
1.Tujuan mengarahkan perhatian
2.Tujuan mengatur upaya
3.Tujuan meningkatkan persistensi
4.Tujuan menunjang strategi dan rencana kegiatan
Menggerakkan (Actuating) Menggerakkan atau Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
Actuating
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah 105).

Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja. Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja yang telah disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

Aktual (Actuating) Menggerakkan
Mengerakkan atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja denagn seidirinya atau penuh kesadaran secara brsama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal in yang dibutuhkan adalah kpemimpinan (leadership)

PENCATATAN TRANSAKSI REKENING SEBAGAI ALAT PENCATATAN  Rekening…

PENCATATAN TRANSAKSI

REKENING SEBAGAI ALAT PENCATATAN

 Rekening / Perkiraan / Accounts adalah suatu alat untuk mencatat transaksi keuangan yang bersangkutan dengan aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya.

 Kumpulan rekening yang digunakan dalam pembukuan suatu perusahaan disebut Buku Besar (Ledger)

PENGGOLONGAN REKENING

1. Rekening Neraca / Rekening Riil / Rekening Permanen
Yaitu rekening-rekening yang pada akhir periode akan dilaporkan di dalam neraca.
Yang termasuk rekening riil adalah rekening-rekening aktiva (harta), rekening-rekening kewajiban (utang), dan rekening-rekening modal.

2. Rekening Rugi-Laba / Rekening Nominal / Rekening Temporer
Yaitu rekening yang pada akhir periode akan dilaporkan dalam laporan rugi-laba
Yang termasuk rekening nominal adalah rekening-rekening pendapatan, rekening-rekening biaya, dan rekening prive.

BENTUK DAN ISI REKENING

 Terdapat bermacam-macam bentuk rekening, tetapi yang paling sering digunakan adalah bentuk huruf T.

 Rekening ini terdiri dari 2 sisi, yaitu sisi kiri yang disebut sisi Debet dan sisi kanan yang disebut sisi Kredit.

 Bentuk sederhana rekening T:

Nama Rekening

sisi Debet

sisi Kredit

 Bentuk lengkap rekening T:

Nama Rekening

Tanggal Keterangan F Jumlah Tanggal Keterangan F Jumlah

Sisi Debet

Sisi Kredit
 Mencatat di sisi kiri disebut mendebet rekening, sedangkan apabila mencatat di sisi kanan disebut mengkredit rekening

 Nama rekening dicantumkan di atas-tengah. Setiap rekening harus diberi nama yang jelas, sehingga mudah diketahui hal apa yang dicatat dalam masing-masing rekening itu.

 Kolom tanggal : untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi
Kolom Keterangan : untuk mencatat keterangan yang berhubungan dengan transaksi yang dicatat
Kolom F : akan diterangkan kemudian

 Selisih jumlah sisi debet dan jumlah sisi kredit disebut Saldo Rekening

 Rekening yang pada akhir periode menunjukkan saldo disebut Rekening terbuka, sedangkan yang tidak menunjukkan saldo disebut Rekening tertutup.

 Jumlah sisi debet > jumlah sisi kredit = Saldo debet
Jumlah sisi kredit > jumlah sisi debet = Saldo kredit

Contoh rekening Kas pada Salon “Paras” untuk mencatat transaksi bulan Desember 2003 :

Kas
Tanggal Keterangan F Jumlah Tanggal Keterangan F Jumlah
2003
Des 1
15

Setoran Modal
Penerimaan Piutang
20.000.000
700.000

20.700.000 2003
Des 1
1
5
31
31

31
Peraltn. Salon
Pembyr. Utang
Pembyr. Sewa
Pembyr. Gaji
Biaya Listrik &
Air
Prive

10.000.000
2.000.000
300.000
450.000
400.000

600.000

13.750.000

ATURAN DEBET – KREDIT

 Yaitu aturan yang digunakan untuk mencatat perubahan aktiva, utang, modal, pendapatan, biaya, dan prive dalam rekening yang bersangkutan.

 Persamaan dasar akuntansi:

AKTIVA = UTANG + MODAL

apabila diperluas :

AKTIVA = UTANG + MODAL + PENDAPATAN – BIAYA – PRIVE

atau :

AKTIVA + BIAYA + PRIVE = UTANG + MODAL + PENDAPATAN

Aturan debet – kreditnya adalah:

AKTIVA UTANG
Debet Kredit Debet Kredit

+

+

BIAYA MODAL
Debet Kredit Debet Kredit

+

+

PRIVE PENDAPATAN
Debet Kredit Debet Kredit

+

+

SALDO-SALDO REKENING

Jenis Rekening
Pertambahan Pengurangan Saldo
Aktiva Debet Kredit Debet
Kewajiban Kredit Debet Kredit
Modal Kredit Debet Kredit
Pendapatan Kredit Debet Kredit
Biaya Debet Kredit Debet

PEMBUKUAN BERPASANGAN

 Setiap transaksi keuangan yang terjadi selalu dicatat dengan cara sedemikian rupa sehingga jelas pengaruhnya terhadap aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya.

 Setiap transaksi selalu dicatat dengan mendebet dan mengkredit 2 buah rekening atau lebih dengan jumlah yang sama. Dengan demikian setiap transaksi paling sedikit akan berpengaruh terhadap 2 buah rekening, yaitu 1 rekening didebet dan 1 rekening dikredit.

NERACA SALDO

 Yaitu daftar yang berisi saldo-saldo dari seluruh rekening yang ada di dalam buku besar pada suatu saat tertentu.

 Tujuan pembuatan neraca saldo:
1. untuk menguji kesamaan debet dan kredit di dalam buku besar
2. untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan

 Neraca saldo biasanya dibuat pada akhir bulan.

 Bentuk neraca saldo:
Nama perusahaan
Neraca Saldo
Tanggal pembuatan

Nama Rekening Saldo
Debet Kredit

Proses Pembuatan Neraca Saldo:

1. Jumlahkan kolom debet dan kolom kredit semua rekening yang terdapat di buku besar.
2. Tuliskan hasil penjumlahan tersebut pada kolom yang sesuai dalam rekening yang bersangkutan. Untuk rekening yang hanya berisi satu baris, tidak perlu dilakukan penjumlahan karena jumlah kolom debet dan kreditnya sudah dapat ditentukan secara langsung.
3. Hitung saldo semua rekening yang terdapat dalam buku besar, yaitu dengan cara mencari selisih jumlah kolom debet dan jumlah kolom kredit yang telah dilakukan pada butir 2.
4. Susunlah Neraca Saldo yang berisi nama semua rekening yang terdapat dalam buku besar beserta saldonya masing-masing yang telah ditentukan pada butir 3.

Keseimbangan sisi debet dan kredit pada neraca saldo belum berarti neraca saldo tersebut benar, karena ada kesalahan tertentu pada neraca saldo yang tidak berpengaruh terhadap keseimbangan debet dan kredit::

1. Transaksi tidak dicatat dalam buku besar
2. Kesalahan pencatatan “jumlah rupiah” dalam buku besar
Contoh: Penerimaan pendapatan sewa yang seharusnya berjumlah Rp 5.400.000,-, telah dicatat dalam buku besar sebesar Rp 4.500.000,-(debet : Kas Rp 4.500.000,- dan kredit: Pendapatan Sewa Rp 4.500.000,-)
3. Pendebetan atau pengkreditan ke dalam rekening yang salah
Contoh: Penerimaan pendapatan bunga Rp 700.000,- yang seharusnya dicatat dengan mendebet rekening Kas Rp 700.000,- dan mengkredit rekening Pendapatan Bunga Rp 700.000,-, telah dicatat dengan mendebet rekening Kas Rp 700.000,- dan mengkredit rekening Pendapatan Sewa Rp 700.000,-.
4. Kesalahan yang saling menutupi
Contoh: Rekening Kas dicatat terlalu besar Rp 100.000,- tetapi di lain pihak rekening Utang Dagang juga dicatat terlalu besar Rp 100.000,-

Penyebab Ketidakseimbangan Neraca Saldo

1. Kesalahan didalam menyusun neraca saldo
 Salah menjumlah kolom saldo (rupiah)
 Satu buah rekening atau lebih, belum dicantumkan dalam neraca saldo, atau salam menuliskan jumlah saldonya
2. Kesalahan didalam menentukan saldo rekening
 Salah menghitung jumlah saldo
 Saldo debet suatu rekening ditulis sebagai saldo kredit, atau sebaliknya
 Salah menghitung jumlah pada salah satu sisi rekening
3. Kesalahan mencatat transaksi didalam buku besar
Transaksi telah dicatat dengan jumlah pendebetan yang tidak sama besar dengan jumlah pengkreditan
 Pendebatan telah dicatat sebagai pengkreditan, atau sebaliknya
 Lupa mencatat suatu pendebetan atau pengkreditan

Contoh:

Pada awal bulan Oktober 2003 Tuan Abi mendirikan perusahaan angkutan yang diberi nama Perusahaan Angkutan “Express”. Berikut transaksi yang terjadi sehubungan dengan pendirian dan operasi perusahaan tersebut:
1. Tuan Abi menanamkan modalnya kedalam perusahaan tersebut berupa uang tunai sebesar Rp 7.400.000,- dan Peralatan Kantor seharga Rp 150.000,-

Kas Peralatan Kantor Modal, Abi

1) Rp 7.400.000 1) 150.000 1) Rp 7.550.000

2. Perusahaan membeli dua buah truk yang harganya masing-masing Rp 2.000.000,- dan Rp 2.500.000,- secara tunai.

Kas Kendaraan Bermotor

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 2) Rp 4.500.000

3. Perusahaan membayar sewa gedung bulan Oktober 2003 sebesar Rp 15.000,-

Kas Sewa Gedung

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 3) Rp 15.000 3) Rp 15.000

4. Dibeli barang-barang perlengkapan kantor (kertas, karbon, tinta, dsb) seharga Rp 4.000,- secara tunai

Kas Perlengkapan Kantor

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 4) Rp 4.000 3) Rp 15.000
4) Rp 4.000

5. Dibeli sebidang tanah untuk tempat reparasi kendaraan seharga Rp 1.000.000,- dari Bp. Rahmat. Dari harga tanah tersebut Rp 750.000,- dibayar tunai dan sisanya akan dibayar secara bertahap dalam waktu 2 bulan.

Kas Utang Dagang Tanah

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 5)Rp250.000 5) Rp 1.000.000
3) Rp 15.000
4) Rp 4.000
5) Rp 750.000

6. Diterima pembayaran dari Arif sebesar Rp 25.000,- untuk pengangkutan barang ke Jakarta

Kas Pendapatan Angkutan

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 6) Rp 25.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
4) Rp 4.000
5) Rp 750.000

7. Dibeli secara tunai bensin dan oli seharga Rp 50.000,-

Kas Biaya Bensin dan Oli

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 7) Rp 50.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
4) Rp 4.000
5) Rp 750.000
7) Rp 50.000

8. Dibayar utang kepada Bp. Rahmat sebesar Rp 100.000,-

Kas Utang Dagang

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 8) Rp 100.000 5) Rp 250.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
4) Rp 4.000
5) Rp 750.000
7) Rp 50.000
8) Rp 100.000

9. Dibayar gaji pegawai untuk periode dua minggu pertama bulan Oktober sebesar Rp 30.000,-

Kas Gaji Pegawai

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 9) Rp 30.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
4) Rp 4.000
5) Rp 750.000
7) Rp 50.000
8) Rp 100.000
9) Rp 30.000

Transaksi no. 10 – 15 sama dengan transaksi yang telah dicatat di atas. Pengaruhnya dapat dilihat pada rekening-rekening buku besar di halaman 8 – 9

10. Diterima Pendapatan Angkutan Rp 40.000,- (lihat transaksi no. 6)
11. Dibayar Biaya Telepon dan macam-macam biaya lainnya sebesar Rp 8.000,- (lihat transaksi no. 3, 7, & 9)
12. Diterima hasil angkutan Rp 35.000,- (lihat transaksi no. 6)
13. Dibayar gaji pegawai untuk periode dua minggu kedua bulan Oktober sebesar Rp 30.000,- (lihat transaksi no. 9)
14. Diterima hasil angkutan Rp 38.000,- (lihat transaksi no. 6)
15. Dibeli Bensin dan Oli seharga Rp 60.000,- (lihat transaksi no. 7)
16. Abi mengambil uang dari perusahaan sebanyak Rp 15.000,- untuk keperluan pribadi.

Kas Prive, Abi

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 16) Rp 15.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
10) Rp 40.000 4) Rp 4.000
12) Rp 35.000 5) Rp 750.000
14) Rp 38.000 7) Rp 50.000
8) Rp 100.000
9) Rp 30.000
11) Rp 8.000
13) Rp 30.000
15) Rp 60.000
16) Rp 15.000

Setelah semua transaksi bulan Oktober dicatat, maka buku besar Perusahaan Angkutan “Express” adalah sbb :

AKTIVA

Kas Peralatan Kantor

1) Rp 7.400.000 2) Rp 4.500.000 1) Rp 150.000
6) Rp 25.000 3) Rp 15.000
10) Rp 40.000 4) Rp 4.000
12) Rp 35.000 5) Rp 750.000
14) Rp 38.000 7) Rp 50.000
8) Rp 100.000
7.538.000 9) Rp 30.000
11) Rp 8.000 Kendaraan Bermotor
13) Rp 30.000
1.976.000 15)Rp 60.000 2) Rp 4.500.000
16) Rp 15.000

5.562.000

Tanah Perlengkapan Kantor

5) Rp 1.000.000 4) Rp 4.000

KEWAJIBAN MODAL

Utang Dagang Modal Abi

16) Rp 100.000 5) Rp 250.000 1) Rp 7.550.000
150.000

PRIVE PENDAPATAN

Prive, Abi Pendapatan Angkutan

16) Rp 15.000 6) Rp 25.000
10) Rp 40.000
12) Rp 35.000
14) Rp 38.000

138.000
BIAYA

Sewa Gedung Biaya Bensin & Oli

3) Rp 15.000 7) Rp 50.000
15) Rp 60.000

110.000

Gaji Pegawai Macam-macam Biaya

9) Rp 30.000 11) Rp 8.000
13) Rp 30.000

60.000

Neraca Saldo untuk Perusahaan Angkutan “Express” adalah sbb :

Perusahaan Angkutan “Express”
Neraca Saldo
31 Oktober 2003
Nama Rekening Saldo
Debet Kredit
Kas
Perlengkapan Kantor
Peralatan Kantor
Kendaraan Bermotor
Tanah
Utang dagang
Modal, Abi
Prive, Abi
Pendapatan Angkutan
Sewa Gedung
Biaya Bensin dan Oli
Gaji Pegawai
Macam-macam Biaya Rp 1.976.000,-
4.000,-
150.000,-
4.500.000,-
1.000.000,-
-
-
15.000,-
-
15.000,-
110.000,-
60.000,-
8.000,- -

Rp 150.000,-
7.550.000,-

  • 138.000,-

Jumlah Rp 7.838.000,- Rp 7.838.000,-

BAGAN REKENING

KELOMPOK DASAR KELOMPOK TERJABAR RUPA-RUPA REKENING
AKTIVA AKTIVA LANCAR

Kas
Surat Berharga
Piutang Usaha
Persediaan
Pos Transitoris dan Antisipasi Aktif
INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi pada Saham
Investasi pada Obligasi

AKTIVA TETAP BERWUJUD Tanah
Bangunan
Mesin
Kendaraan
Peralatan Kantor

AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD Goodwill
Hak Paten
Merk Dagang

AKTIVA LAIN-LAIN Gedung dlm Pembangunan
Mesin yg tdk Digunakan

UTANG UTANG LANCAR Utang Usaha
Utang Bank
Utang Pajak
Pos Transitoris dan Antisipasi Pasif

UTANG JANGKA PANJANG Utang Hipotik
Utang Obligasi
Utang Bank Jangka Panjang

PENDAPATAN PENDAPATAN USAHA Penjualan
Pendapatan Jasa

PENDAPATAN DI LUAR USAHA Pendapatan Bunga
Pendapatan Dividen

BIAYA BIAYA USAHA Harga Pokok Penjualan
Biaya Administrasi
Biaya Pemasaran

BIAYA DI LUAR USAHA Biaya Bunga

MODAL MODAL DISETOR Modal Tuan “X”
Modal Saham Biasa
Agio Modal Saham Biasa

LABA DITAHAN Laba Ditahan

PRIVE PRIVE Prive Tuan “X”

LATIHAN SOAL

Arjuna mendirikan sebuah biro perencana bangunan. Berikut ini adalah transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Juni 2004 (bulan pertama operasi perusahaan)
a. Arjuna memulai perusahaannya dengan menyerahkan uang tunai Rp 12.000.000,- dan sebuah mobil yang bernilai Rp 6.000.000,- sebagai setoran modalnya.
b. Dibayar sewa kantor bulan Juni Rp 400.000,-
c. Dibeli peralatan kantor secara kredit Rp 2.500.000,-
d. Diterima pendapatan jasa perencanaan Rp 600.000,-
e. Dibayar biaya pemasangan iklan pada surat kabar Rp 100.000,-
f. Dikirim faktur tagihan kepada seorang konsumen yang menggunakan jasa perusahaan secara kredit Rp 800.000,-
g. Dibayar premi asuransi untuk 2 tahun Rp 400.000,-
h. Dibayar angsuran utang yang timbul karena pembelian peralatan kantor secara kredit Rp 1.000.000,-
i. Diterima pendapatan jasa perencanaan Rp 500.000,-
j. Diterima angsuran dari seorang konsumen yang menggunakan jasa secara kredit Rp 600.000,-
k. Arjuna mengambil uang untuk keperluan pribadi Rp 300.000,-
l. Dibayar gaji pegawai Rp 700.000,-

Diminta :

1. Buatlah rekening-rekening T berikut ini: Kas; Piutang Dagang; Asuransi Dibayar di Muka; Peralatan Kantor; Kendaraan; Utang Dagang; Modal, Arjuna; Prive, Arjuna; Pendapatan Jasa Perencanaan; Biaya Gaji; Biaya Sewa; dan Biaya Advertensi. Catatlah transaksi-transaksi di atas secara langsung ke dalam rekening-rekening T tersebut.

2. Tentukan saldo setiap rekening dan susunlah Neraca Saldo per 30 Juni 2004

NAMA ANDRIAWAN PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS KELAS A…

NAMA : ANDRIAWAN
PROGRAM STUDI : MANAJEMEN BISNIS
KELAS : A
NIM : 1102182

PENGERTIAN BAHASA

secara umum dapat difenisikan sebagai lambang. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia.
Perlu kita ketahui bahwa bahasa terdiri dari kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai dengan penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.
Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.

Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.
Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12).Menurut Wibowo (2001:3),
PENGERTIAN BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyakragam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari ratusan bahasa lainnya yang ada di NKRI serta menjadi alat pemersatu di Nusantara .
FUNGSI BAHASA INDONESIA DI MASYARAKAT INDONESIA
1. Alat untuk berkomunikasi dengan sesama warga Indonesia
2. Alat untuk bekerja sama dengan sesama warga Indonesia
3. Alat untuk mengidentifikasi diri.

KESIMPULAN
kesimpulan yang bisa saya ambil dari materi diatas , bahwa ;
1. Bahasa merupakan sesuatu yang penting dalam segi hal apapun di dunia ini .
2. Bahasa merupakan lambang dari alat ucap manusia yang diidentifikasikan berupa alat multi komunikasi yang berupa beberapa kata atau kalimat , baik itu diucapkan secara lisan maupun non lisan .
3. Bahasa digunakan oleh setiap manusia , meskipun setiap kumpulan individu tertentu berbeda suku ataupun daerah , mereka memiliki cara khas ataupun gaya tersendiri dalam berkomunikasi ataupun mempunyai bahasa mereka sendiri.
4. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berasal dari bahasa melayu , yang merupakan bahasa ibu dari ratusan bahasa lainnya yang ada di Indonesia , yang di resmikan secara formal sehari setelah Proklamasi Kemerdeaan Indonesia , tanggal 18 Agustus 1945 .
5. Fungsi bahasa Indonesia di dalam masyarakat Indonesia , yaitu;
a. Sebagai identitas , bahwasanya setiap warga Indonesia dimanapun ia berada , wajib mengucapkan , mengerti ataupun memahami bahasa Indonesia ! atau seminimalnya mengetahui dan mengenal bahasa Indonesia .
b. Sebagai alat berkomunikasi sesama warga Indonesia dimanaun ia berada.